DIMANA TANAH DI JAJAK DI SITU JUA LANGIT DI JUNJUNG

SELAMAT DATANG DI FOLKS OF BANJAR • BERBAGI INFORMASI TENTANG SEJARAH SENI DAN BUDAYA BANJAR • FOLKS OF BANJAR DI BANGUN UNTUK KELESTARIAN SEJARAH ADAT DAN BUDAYA BANUA BANJAR • KRITIK DAN SARAN ANDA SANGAT KAMI PERLUKAN UNTUK KEMAJUAN BLOG INI • SEMOGA APA YG FOLKS OF BORNEO HADIRKAN DAPAT BERMANFAAT BAGI KITA SEMUA • TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA DAN KAMI SELALU MENUNGGU KUNJUNGAN ANDA KEMBALI KE BLOG INI

Terjemahkan

Selasa, 05 Maret 2019

HIKAYAT BANJAR



Cerita ini berasal dari negeri Keling. Di sana hidup seorang pedagang yang kaya raya bernama saudagar Mangkubumi. Istrinya bernama Siti Rara. Anaknya bernama Empu Jatmika. Setelah Empu Jatmika besar kemudian dia kawin dengan Sari Manguntur. Dari perkawinannya ini Empu Jatmika mendapat dua orang putra, bernama Empu Mandastana dan Lembu Mangkurat. Saudagar Mangkubumi jatuh sakit ketika kedua cucunya masih remaja. Semua anggota keluarga dititahkan untuk berjaga selama 40 hari, siang dan malam. Saudagar Mangkubumi meminta supaya anak dan cucunya datang menghadap ketika beliau hampir meninggal dunia. Kemudian dia berpesan kepada anaknya Empu Jatmika supaya menjaga seluruh keluarga dengan sebaik-baiknya. Selain itu beliau berpesan agar jangan kikir dan bersikap adil terhadap setiap orang. Hendaklah anaknya menerima dan mendengar setiap permohonan orang yang datang menghadap dengan segera. Itulah kata-kata terakhir dari saudagar Mangkubumi.
Sebelumnya juga beliau berpesan supaya anaknya pergi merantau ke luar negeri Keling karena di negeri Keling ini terdapat banyak orang yang suka iri hati dan dengki. Anaknya Empu Jatmika harus mencari negeri yang bertanah panas dan berbau harum. Untuk mengetahui hal itu hendaklah dia menggali tanah yang didatanginya, kira-kira pada tengah malam dan mengambilnya sekepal. Jika telah berhasil menjumpai daerah yang tanahnya memenuhi syarat-syarat itu, hendaklah dia menetap di sana. Karena di tempat itulah dia mendapat rahmat dan kebahagiaan. Tanaman-tanaman akan tumbuh subur. Saudagar-saudagar akan berdagang, dan negara akan terhindar dari gangguan musuh. Jika tanah itu harum tetapi dingin, maka kebahagiaan dan kemakmuran hanyalah sekadar saja. Baik dan buruk ada di dalam keadaan seimbang. Jika tanah itu berbau busuk dan lagi dingin, maka niscaya negara itu senantiasa ditimpa bahaya. Menderita kesukaran yang tidak putus-putusnya.
Setelah berpesan demikian, saudagar Mangkubumi menutup mata untuk selama-lamanya. Semua keluarga berduka cita, dan meratapi dengan tangis kesedihan. Untuk mengikuti kebiasaan pada zaman dahulu kala, upacara pemakaman berlangsung dengan disertai pembagian beribu-ribu lembar kain dan berpuluh-puluh ribu uang yang ditaburkan.
Mengingat akan pesan ayahnya, Empu Jatmika setuju sekali untuk meninggalkan negerinya. Dia memerintahkan hulubalang Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa untuk datang menghadap. Juga Wiramartas yang merupakan seorang ahli bahasa. Wiramartas fasih dalam berbahasa Arab, Persi, Melayu, Tionghoa, dan lain-lain. Kemudian Wiramartas ditunjuk sebagai kepala dari rencana perjalanan ini.
Tidak lama kemudian, bertolaklah dari negeri Keling, armada yang berlayar dengan dipelopori oleh kapal Si Prabayaksa. Empu Jatmika terdapat dalam kapal pelopor ini. Tidak lama kemudian, armada berlabuh di sebuah pulau. Tetapi ternyata pulau itu tidaklah bertanah panas dan harum. Dengan sedikit kecewa pelayaran diteruskan. Armada kemudian berlabuh di pulau Hujung Tanah. Sementara berlabuh Empu Jatmika tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya itu dia serasa berjumpa dengan almarhum ayahanda, yang berpesan supaya mendarat di pulau Hujung Tanah. Di situlah dia akan menjumpai apa yang dicari.
Pagi-pagi benar pergilah Empu Jatmika dengan empat orang pengiringnya menuju pulau Hujung Tanah. Dia mengambil tanah di sana, dan benarlah di sini hawanya panas laksana api, harum bagai daun pudak.
Dengan batu-batu yang dibawa dari negeri Keling, dimulailah membangun sebuah candi. Kemudian didirikan pula sebuah istana lengkap dengan balairung, pendopo dan perbendaharaan. Dengan suatu upacara di dalam balairung, Empu Jatmika memberikan nama kepada negara baru itu Nagara Dipa. Dia sendiri menjadi raja di negara ini dengan gelar Maharaja di Candi.
Pada waktu itu terdapat kepercayaan kepada peribahasa: “Siapa yang tidak berdarah bangsawan, tetapi oleh karena kekayaan dapat menjadi raja, dia akan ditimpa oleh bencana. Demikian pula bencana itu akan menimpa mereka yang mengakui orang itu sebagai raja”! Oleh karena itu, Empu Jatmika membuat patung dari kayu cendana. Patung inilah yang seolah-olah dijadikan raja dan kepadanya seolah-olah diletakkan kekuasaan yang tertinggi.
Ahli-ahli tatah ukir membuat dua buah patung, yang berwujud seorang laki-laki dan seorang perempuan. Patung-patung itu dihiasi dengan seindah-indahnya dan diukup dengan dupa serta wangi-wangian kemudian diletakkan dalam candi. Setiap hari Jumat datanglah raja mengunjungi patung-patung itu. Pada suatu ketika raja menitahkan supaya Hulubalang Arya Megatsari membawa tentara 1000 orang untuk menaklukkan daerah Batang Tabalong, Batang Balangan, dan Batang Pitap. Dengan kekuasaan tentara yang sama pula, berangkatlah Tumenggung Tatah Jiwa ke daerah Batang Alai, Batang Hamandit, dan Labuan Emas. Kedua ekspedisi ini berhasil. Semua pemimpin-pemimpin rakyat di daerah yang ditaklukkan itu dibawa menghadap raja. Mereka semua diwajibkan untuk tunduk kepada perintah kedua hulubalang. Setiap musim panen mereka haruslah menyerahkan upeti yang jumlahnya telah ditetapkan. Setelah dijamu secara mewah, semua pemimpin itu diperkenankan kembali ke daerah masing-masing, dengan perjanjian tidak akan lagi bermusuhan antarsesama mereka.
Sesudah pemimpin-pemimpin itu kembali ke daerah masing-masing, raja mencurahkan perhatiannya kepada keadaan istana. Segala peraturan, susunan pegawai, upacara istana disesuaikan dengan tatakrama Majapahit. Ketika semua peraturan telah tersusun dengan baik, Empu Jatmika mengirimkan armada ke negeri Keling. Di bawah pimpinan nakhoda Lampung, mereka menjemput keluarga dan harta benda yang berharga yang masih ketinggalan. Di dalam perjalanan pulang armada ini dilanda angin taufan. Kapal-kapal terserak ke sana ke mari, sebagian hanyut ke Laut Kidul. Akibatnya banyak anak buah kapal yang tewas. Sisa dari armada itu tiba kembali ke Nagaradipa dengan selamat. Para nakhoda mendapat hadiah. Di antaranya sebuah pedang yang indah permai.
Pada suatu upacara yang biasanya dilakukan pada setiap hari Sabtu, raja memberitahukan kepada Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa, keinginannya untuk mengganti patung-patung kayu yang lambat-laun telah menjadi lapuk dengan patung dari gangsa. Ketika itu raja mengetahui bahwa bangsa Tiongkok adalah bangsa yang pandai dan ahli dalam pembuatan patung gangsa. Maka beliau memutuskan untuk mengutus Wiramartas menghadap Raja Tiongkok dengan membawa bingkisan yang berharga, diantaranya terdapat 10 ekor kera jenis orang hutan.
Dengan tidak banyak mendapat kesukaran, utusan di bawah pimpinan Wiramartas itu tiba di Tiongkok. Di dalam suatu sidang resmi, Wiramartas mempersembahkan surat dari raja Negara Dipa. Seorang pandita Raja Tiongkok membacakan surat tersebut. Kemudian Raja Tiongkok menitahkan supaya memenuhi permintaan Raja Negaradipa. Kemudian Raja Tiongkok masuk ke dalam istana. Setelah musim baik tiba, berlayar pulanglah Wiramartas. Empat puluh orang ahli patung milik Raja Tiongkok ikut serta. Selain itu, dikirim pula berbagai aneka macam hadiah, seperti tikar permadani, kain sutera dan barang-barang porselen. Wiramartas sendiri mendapat hadiah pakaian yang indah dan sebilah pedang Jepang.
Setelah Wiramartas sampai di pelabuhan Negara Dipa, utusan ini disambut secara meriah. Dalam sidang, Wiramartas menyampaikan laporan dari perjalanan dan membacakan surat dari Raja Tiongkok. Wiramartas dengan pengiring-pengiringnya diberi hadiah, yakni sebagai balas jasa atas menjalankan kewajibannya dengan sangat baik. Kepada Wargasari, bendahara raja, diserahkan bingkisan Raja Tiongkok. Sedangkan Arya Megatsari diperintahkan untuk menjaga ahli-ahli seni rupa bangsa Tionghoa itu.
Dalam waktu yang singkat, ahli-ahli bangsa Tiongkok itu selesai dengan tugas mereka. Dua patung gangsa yang berbentuk seorang laki-laki dan seorang perempuan yang ukurannya sebesar anak kecil, diserahkan kepada raja. Raja sangat mengagumi pekerjaan para ahli itu. Kemudian raja menitahkan untuk melemparkan patung-patung dari kayu cendana ke dalam laut, dan menempatkan patung gangsa sebagai gantinya di dalam candi.
Empat puluh pandita dititahkan untuk menjaga patung-patung itu. Di dalam waktu tertentu, mereka harus membersihkan dan menggosoknya dengan pasir halus, agar patung itu tidak berkarat. Kemudian diusap dengan narawastu dan diasapi dengan kemenyan. Setiap malam Sabtu, haruslah pandita-pandita itu menaburi patung-patung itu dengan bunga melati, cempaka, dan bunga pudak.
Di zaman itu, Negara Dipa termasyhur ke mana-mana. Pembentukan negara dan cara pemerintahan mengikuti adat dari kerajaan Majapahit. Pakaian dan kebiasaan harus meniru pula pakaian adat dan kebiasaan Jawa. Malah raja tidak lagi menghendaki rakyatnya berpakaian secara Keling atau Melayu. Karena Negara Dipa adalah negara yang berdiri sendiri dan haruslah mengambil bentuk yang selaras dan pantas. Selanjutnya raja memperingatkan rakyatnya, jangan menanam lada untuk perdagangan seperti di Sriwijaya. Sebab di tempat tumbuhnya lada, akan terdapat kekurangan bahan makanan. Tumbuh-tumbuhan tidak akan tumbuh subur oleh hawa panas lada. Negara akan menerima kesukaran dan pemerintahan akan runtuh. Jika orang ingin menanam juga lada, hendaknya jangan lebih dari empat sampai lima rumpun, yakni sekadar cukup untuk keperluan sendiri.
Beberapa lama kemudian Empu Jatmika jatuh sakit. Banyak tabib yang didatangkan, tapi tidak berhasil. Siang dan malam banyak rakyat yang berjaga-jaga di sekitar istana.
Akhirnya raja menitahkan agar kedua putranya menghadap. Juga kedua hulubalang, Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa. Dengan tegas raja memperingatkan agar kedua putranya jangan menerima kehormatan untuk menjadi raja. Sebab bencana dan malapetaka akan selalu menimpa setiap orang yang menjadi raja, jika dia bukan berasal dari kaum bangsawan. Beliau sendiri meletakkan kekuasaan pada patung-patung karena khawatir di timpa bencana. Jika beliau mangkat haruslah patung-patung itu dilemparkan ke laut. Sedangkan putra-putranya dititahkan mencari raja manusia dengan jalan Empu Mandastana haruslah bertapa di gunung, di dalam gua atau di pohon-pohon besar. Sedangkan Lembu Mangkurat haruslah bertapa di pusaran air yang dalam. Sesudah memberikan peringatan ini, rajapun mangkat. Pemakaman jenazah baginda dilakukan dengan upacara kebesaran. Kemudian oleh pandita-pandita dilakukan upacara membuang patung-patung ke dalam laut.
Kemudian Empu Mandastana dan Lembu Mangkurat pergi bertapa memenuhi anjuran ayahanda mereka, Empu Jatmika. Dua tahun lamanya mereka hidup mengasingkan diri, dengan mengurangi makan, minum, dan tidur. Akan tetapi, yang diharap-harap belum juga tiba, sehingga mereka telah berniat untuk pulang kembali.
Pada suatu malam Lembu Mangkurat bermimpi. Dalam mimpinya seolah mendengar suara almarhum ayahandanya. Beliau menganjurkan supaya Lambu Mangkurat membuat rakit-rakit dari 14 batang pohon pisang saba dengan berlangit-langit kain putih. Di empat sudut digantungkan mayang mengurai. Lambu Mangkurat harus pula membakar dupa, dan berhanyut ke hilir sungai dengan tidak merasa gentar, bila seandainya bertemu buaya, ikan, dan ular besar. Jika dia dan rakitnya sampai di Lubuk Bargaja, maka rakit itu akan berputar di pusaran air. Kalau pusaran air ini tenang kembali, dia akan melihat sebuah buih raksasa. Dari dalam buih ini akan terdengar suara perempuan yang berbicara kepadanya. Perempuan inilah yang akan menjadi raja putri Negara Dipa.
Besok harinya Lembu Mangkurat melaksanakan petunjuk yang terdapat dalam mimpinya. Dengan rakit yang memenuhi syarat seperti yang dikehendaki, diapun berhanyut ke hilir. Dengan tidak merasa takut, walaupun sepanjang jalan bertemu dengan buaya, ikan, dan ular-ular besar. Akhirnya dia melihat buih yang bercahaya-cahaya timbul ke permukaan air. Suatu suara yang lemah lembut dan merdu bertanya: “Lembu Mangkurat, apakah yang engkau perbuat di sini?” Lembu Mangkuratpun menjawab: “Hamba mencari seorang raja untuk memerintah di Negara Dipa!” Suara itu kedengaran lagi. “Lembu Mangkurat, aku adalah raja putri, Putri Tunjung Buih yang engkau cari!”. Lembu Mangkurat terus berjanji mempersembahkan candi sebagai istana. Tetapi Putri Tunjung Buih menolak tinggal di sana. Karena di situ pernah di letakkan patung-patung yang dijadikan berhala. Dia meminta supaya membangun sebuah mahligai. Sebagai tiangnya haruslah diambil 4 pohon batung batulis dari gunung Batu Piring. Mahligai itu haruslah selesai dikerjakan di dalam satu hari. Selanjutnya empat puluh orang gadis harus menyelesaikan selembar kain kuning yang panjangnya 7 meter dan lebarnya 2 meter. Kain itu akan digunakan oleh putri sebagai selendang jika dia bepergian. Setelah mengetahui hal ini semua, Lembu Mangkurat pun segera memberitahukan peristiwa ini kepada Empu Mandastana. Rakyat dilarang melayari sungai tersebut sebelum putri naik ke mahligai. Empat orang patih mendapat perintah untuk mengambil 4 pohon batung batulis. Benarlah, pada hari itu permintaan Putri Tunjung Buih selesai, seperti mahligai. Sedangkan keempat puluh orang gadis dapat pula memenuhi kewajiban yang dipikulkan kepada mereka untuk membuat selembar kain langgundi.
Dengan suatu upacara kebesaran, berangkatlah Lembu Mangkurat menjemput sang Putri Tunjung Buih dengan diiringi oleh 40 orang gadis yang berpakaian kuning. Dengan khidmat kain kuningpun dipersembahkan kepada Putri Tunjung Buih.
Bercahaya-cahaya, gilang-gemilang keluarlah putri dari dalam buih, berpakaian rapi dan berselendang kain kuning yang dibuat oleh para gadis. Dengan diiringi oleh rakyat, berangkatlah Putri Junjung Buih menuju mahligainya. Hanya 40 orang gadis pengiring yang diperkenankan tinggal bersama Putri. Kini Putri Junjung Buih pun menjadi raja di Negara Dipa. Di dalam wujudnya, pemerintahan diserahkan kepada kebijaksanaan Lembu Mangkurat, walaupun dia adalah adik dari Empu Mandastana. Dan ia pulalah yang memberikan keputusan-keputusan yang penting di dalam soal yang bertalian dengan urusan negara.
Pada suatu hari Lembu Mangkurat menghadap Putri Junjung Buih, dengan maksud menanyakan apakah dia tidak akan memilih suami. Dengan tegas Putri Junjung Buih itu menjawab: “bahwa dia hanya akan kawin dengan seorang laki-laki yang diperoleh dengan bertapa”. Jawaban ini menimbulkan kesukaran yang tidak mudah dipecahkan. Dengan agak malu Lembu Mangkurat memohon diri pulang.
Adapun Empu Mandastana berputra dua orang, yaitu Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga. Setiap hari, kedua anak muda itu bermain di sekitar mahligai Putri Junjung Buih. Banyak anak gadis yang jatuh cinta kepada kedua anak muda ini. Mereka menjalin pantun dan menggubah seloka untuk menyatakan kerinduan mereka. Pada suatu hari Putri Junjung Buih melihat kedua anak muda itu, hingga diketahuinya kedua anak itu adalah putra-putra dari Empu Mandastana. Sekadar untuk memberi hadiah sebagai tanda kebahagiaan hatinya, Putri Junjung Buih memberi sekuntum bunga nagasari kepada mereka. Bunga nagasari pada waktu itu belum tumbuh di Negara Dipa. Tetapi malang, tepat pada saat itu paman mereka, Lembu Mangkurat lewat di sana. Dengan gusar dan cemburu Lembu Mangkurat menanyakan apa yang mereka perbuat di sekitar istana itu. Kemudian ia melarang kedua putra kakaknya itu untuk datang bermain-main di dekat kediaman raja. Hal itu karena Lembu Mangkurat berpendapat, kalau nanti sampai Putri Junjung Buih ingin bersuamikan salah seorang dari kemenakannya, maka dia kelak sebagai paman akan menyembah anak kakaknya. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk menyingkirkan kedua anak muda itu.
Pada suatu hari dengan alasan bersama-sama akan pergi mencari ikan, ia mengajak kedua kemenakannya, yaitu Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga ke hulu sungai. Kedua anak itu menurut saja ajakan pamannya itu. Namun sebelum berangkat, mereka telah bermohon dan menyatakan selamat berpisah kepada ayah dan bunda mereka. Hal inilah yang kemudian menjadi pangkal kecurigaan. Menjelang keberangkatan, Bangbang Sukmaraga menanam sebatang pohon kembang melati di sebelah kanan dari pintu rumah, sedangkan adiknya Bangbang Patmaraga menanam sebatang kembang merah di sebelah kiri, seraya berkata: “Jika daun-daun ini rontok berguguran, maka itulah tandanya kami berdua kakak beradik mati dibunuh oleh paman Lembu Mangkurat”!
Dengan berbaju putih, mereka pergi ke perahu, sedangkan Lembu Mangkurat telah datang terlebih dahulu menunggu mereka. Mereka bersama-sama berangkat dengan perahu ke hulu sungai hingga sampai di Batang Tabalong. Di sinilah kedua anak kakaknya tersebut dibunuh. Lembu Mangkurat menjadi keheran-heranan setelah mengetahui bahwa mayat Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga hilang lenyap seketika itu juga. Sampai sekarang tempat pembunuhan ini masih dikenal dengan nama Lubuk Badangsanak.
Empu Mandastana dan istrinya yang sedang dalam keadaan cemas dan khawatir menunggu kabar anaknya, tiba-tiba dikejutkan oleh datangnya sejoli burung merak. Yang jantan hinggap di pangkuan Empu Mandastana dan yang betina di pangkuan istrinya.
Maklum akan tanda-tanda ini, berdebar-debarlah hati Empu Mandastana dan istrinya. Seolah-olah mereka tahu bahwa kedua putra mereka telah mati dibunuh. Dengan serempak mereka menengok pohon-pohon yang ditanam oleh putra-putranya. Ketika melihat pohon-pohon itu, berlinanganlah air mata mereka karena daun-daun pohon itu satu demi satu berguguran. Segera mereka mengambil keputusan untuk mengikuti nasib kedua putranya, yaitu Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga. Setibanya mereka kembali ke candi, Empu Mandastana menikam dirinya dengan sebuah keris Keling yang bernama Parung Sari dan istrinya dengan Lading Malela. Beberapa hari kemudian barulah Lembu Mangkurat mengetahui kematian kakaknya. Ia menanyakan kepada semua pengiring di manakah mereka paling akhir melihatnya. Tetapi walaupun sudah diselidiki dengan saksama, orang-orang tidak juga menjumpai Empu Mandastana dan istrinya. Sambil menduga apa yang mungkin terjadi, Lembu Mangkurat pergi menuju Candi. Di sana dia menjumpai kedua sosok tubuh yang telah menjadi mayat, terbaring tenang laksana tidur, sedangkan keris dan lading untuk bunuh diri tergeletak di samping mereka masing-masing. Di sekelilingnya tampak banyak burung yang mati bergelimpangan karena terbang melangkahi kedua mayat keramat itu.
Lembu Mangkurat memerintahkan pengiring-pengiringnya untuk membuang kedua mayat itu serta tanah-tanah tempat mayat itu terbaring ke laut. Di tempat itu kemudian menjadi sebuah telaga yang sampai sekarang dinamakan Telaga Raha. Konon jika ada seorang yang dianggap bersalah dan dibunuh, maka kelihatan air Telaga Raha itu akan berwarna kemerah-merahan selama dua puluh empat jam. Demikian pula halnya dengan sungai yang berhulu dari gunung Batu Piring, yaitu gunung tempat mengambil batung batulis untuk membuat tiang mahligai Putri Junjung Buih. Sampai sekarang sungai ini masih terkenal dengan nama Sungai Darah.
Pada suatu malam Lembu Mangkurat bermimpi bahwa almarhum ayahandanya menceritakan bahwa Raja Majapahit ketika bertapa mendapat seorang putera yang layak untuk menjadi suami Putri Junjung Buih. Di dalam mimpinya diceritakan bahwa semula Raja Majapahit mendapat nasihat dari seorang tua supaya bertapa di gunung Majapahit dan kelak malaikat dari kayangan akan memberikan baginda seorang putera. Jika baginda menjaga anak ini baik-baik, kekuasaan dan kemasyhurannya akan bertambah luas. Selain itu sebagai tanda rahmat kebahagiaan, akan lahir lagi enam orang anak. Pada keesokan harinya, Raja Majapahit berangkat bertapa ke gunung tersebut. Sesudah empat puluh hari lamanya beliau bertapa, baginda benar-benar mendapat karunia seorang putra yang diberi nama Raden Putra. Kemudian baginda kembali ke istana. Sesudah beberapa lama akhirnya lahir enam orang anak, tiga orang putra dan tiga orang putri. Kekuasaan Majapahit kian hari kian bertambah besar.
Demikianlah cerita yang disampaikan oleh almarhum ayahandanya di dalam mimpi. Berdasarkan mimpinya itu, Lembu Mangkuratpun memerintahkan dengan segera untuk menyiapkan kapal Si Prabayaksa dan kapal-kapal lainnya. Selain Wiramartas, ikut pula empat orang patih serta sepuluh orang nakhoda, Puspawana, Wangsanala, dan Sarageni. Rombongan ini berangkat dari Negaradipa dan langsung dipimpin oleh Lembu Mangkurat. Tidak lama kemudian sampailah mereka di pelabuhan Majapahit. Ketika Syahbandar Pelabuhan Majapahit menerima kabar tersebut, maka iapun pergi ke pangkalan untuk menyaksikan sendiri orang asing yang datang itu. Betapa terkejut hatinya ketika melihat begitu banyak kapal yang berlabuh, sehingga keluar dari mulutnya: “selama orang-orang asing datang ke sini, belum pernah seperti ini”! Syahbandar Pelabuhan Majapahit segera kembali dengan membawa kabar, bahwa orang-orang asing itu berasal dari Negara Dipa di bawah pimpinan Lembu Mangkurat. Mereka datang dengan maksud mengunjungi Raja Majapahit. Dengan segera Syahbandar pelabuhan pergi ke istana kerajaan Majapahit dan menyampaikan laporan kepada Patih Gajah Mada. Kemudian Patih Gajah Mada menyampaikan berita ini kepada Raja Majapahit.
Berita kedatangan Lembu Mangkurat ini menimbulkan kekhawatiran Raja Majapahit, yang selama ini tidak pernah merasa gentar kepada raja asing mana pun. Meskipun demikian, beliau tetap mempersilakan Lembu Mangkurat untuk menghadap. Dengan berpakaian kebesaran yang gemerlapan, berangkatlah Lembu Mangkurat menunggang kuda putih didampingi oleh para pengawal yang bersenjata pedang. Para patih, hulubalang dan nakhoda-nakhoda berbaris pula mengikuti mereka dengan pakaian kebesaran yang indah. Paling belakang terdapat barisan dari lima ratus tentara yang berjalan kaki dan lima ratus orang yang menunggang kuda. Arak-arakan seindah itu belum pernah terlihat di Majapahit.
Sesudah tiga hari, barisanpun sampai di dalam kota. Di Sitiluhur telah menunggu Patih Gajah Mada, Arya Dilah, Arya Jamba, Rangga Lawe, Arya Sinom, Kuda Pikatan, Hajaran Panulih, dan Dipati Lampur. Sejurus kemudian terdengarlah dentuman senapan yang memberikan tanda bahwa raja akan keluar dari istana. Dengan diiringi bunyi gamelan, raja berjalan keluar. Di atas panggung terdengar gamelan membunyikan lagu lokananta, sedang di Paseban dibunyikan galaganjur. Tombak upacara, bendera, dan panji-panji dibawa ke hadapan raja. Beberapa rombongan masing-masing terdiri atas empat puluh orang, datang berbaris dengan memakai pakaian seragam yang indah. Kemudian raja duduk di Sitiluhur, sedangkan untuk pengawalan ditempatkan Singanegara (polisi) sebanyak empat ratus orang di sekeliling istana. Di hadapan raja duduk pula dua ratus orang wanita dengan memakai sarung yang keemas-emasan. Mereka adalah para pengiring yang diwajibkan untuk membawa keperluan-keperluan raja, seperti tikar, kendi, alat merokok, dan sebagainya. Lembu Mangkurat dipersilakan masuk ke ruang tamu istana didampingi oleh empat orang patih yang duduk di belakangnya.
Tak lama kemudian Patih Gajah Mada memasuki ruang tamu. Beliau menyalami tangan Lembu Mangkurat, kemudian menanyakan maksud kedatangannya. “Kami datang untuk menghadap Raja Majapahit”! kata Lembu Mangkurat. Kemudian Patih Gajah Mada menanyakan lagi apa gerangan yang diinginkan Lembu Mangkurat yang lain. Kalau diperkanankan ia akan membawa anak Raja Majapahit ke Negara Dipa untuk dikawinkan dengan Putri Junjung Buih, raja dari kerajaan Negara Dipa. Sesudah itu Lembu Mangkurat juga menyerahkan bingkisan-bingkisan yang berharga. Patih Gajah Mada kemudian menerangkan bahwa baginda tidak mempunyai anak lagi. Enam orang putra-putri telah kawin semuanya. Kemudian Lembu Mangkurat menerangkan bahwa ia hanya menghendaki putera Raja Majapahit yang diperoleh dari bertapa. Akhirnya Raja Majapahit berjanji akan menyerahkan sesudah tujuh hari kepada Lembu Mangkurat. Kemudian Raja Majapahit meninggalkan ruang tamu dengan diiringi bunyi gamelan. Patih Gajah Mada ditunjuk untuk menjamu Lembu Mangkurat beserta pengiringnya.
Tujuh hari tujuh malam secara terus-menerus diadakan perayaan untuk menghormati tamu dengan mengadakan pertunjukan-pertunjukan seperti topeng, wayang orang, wayang purwa, wayang gedog, dan sebagainya. Selain itu, diadakan pula pertandingan ketangkasan keprajuritan. Setelah tiba waktunya, benarlah raja dengan ikhlas menyerahkan putranya yang bernama Raden Putra. Lembu Mangkurat mendapat banyak hadiah dari Raja Majapahit untuk dibawa pulang seperti dua payung besar, dua payung kertas, dua bedil cacorong, satu keris Jaka Piturun, satu gamelan Si Rarasati, satu babande Si Macan, satu pepatuk Si Mundaran.
Raden Putra pun diusung dalam tandu dibawa menuju ke pelabuhan. Iring-iringan kapal berangkat dengan segera dan dalam empat hari sampailah di Pendamaran. Angin tiba-tiba berhenti bertiup, reda, teduh, dan laut menjadi tenang. Apapun juga telah diperbuat, namun kapal yang ditumpangi Raden Putra tak juga bergerak. Semuanya telah putus asa. Ketika itu berkatalah Raden Putra bahwa ada dua ekor naga putih, yang merupakan rakyat dari Putri Junjung Buih melilit dan menahan kapal. Raden Putra menyatakan bahwa dia siap melompat ke laut untuk mengusirnya. Sekarang Lembu Mangkurat mengakui kelebihan Raden Putra. Lembu Mangkurat yang semula tidak menunjukkan ketakutan terhadap Raja Majapahit, kini menghatur sembah kepada Raden Putra.
Raden Putra meminta supaya menunggu tiga hari kepada Lembu Mangkurat. Jika sesudah tiga hari belum timbul juga, haruslah dilakukan puja bantani, karena dengan melakukan puja tersebut tentu dia akan segera timbul kembali. Dengan hati yang berdebar-debar setelah mereka menunggu selama tiga hari, tetapi Raden Putra belum timbul juga. Wiramartaspun lalu diutus lebih dahulu untuk mengambil kerbau, kambing, dan ayam ke Negara Dipa. Diapun juga diwajibkan untuk membawa menteri-menteri untuk menyambut segala hadiah dari Raja Majapahit. Setelah Wiramartas tiba di Negara Dipa membawa berita, Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa pun memerintahkan menteri-menteri berlayar ke Pendamaran.
Sesudah diadakan upacara puja bantani tujuh hari tujuh malam, tampaklah tiba-tiba Raden Putra muncul ke permukaan air dengan muka berseri-seri dan bercahaya, memakai baju sutera kuning yang indah dan menakjubkan, serta kaki Raden Putra bepijak di atas sebuah gong besar. Setelah Raden Putra naik ke geladak kapal, Lembu Mangkurat mengait gong besar itu dengan paradah. Oleh karena itu, gong besar tersebut sampai sekarang tetap dikenal dengan nama Si Rabut Paradah. Raden Putra selanjutnya bergelar Suryanata. Surya artinya matahari, nata artinya raja. Tempat berhenti dan memuja di Pendamaran itu sampai sekarang dinamai Perbantanan.
Kemudian pelayaran diteruskan menyusuri sungai menuju Negara Dipa. Suryanata mendapat tempat tinggal di istana yang pernah didiami oleh Empu Jatmika. Dari daerah Tabalong, Barito, Alai, Hamandit, Balangan, Pitap, Biaju Besar, Biaju Kecil, Sabangau, Mendawai, Katingan, Sampit dan Pembuang datanglah rakyat berduyun-duyun menyampaikan penghormatan kepada Raden Suryanata. Empat puluh hari, empat puluh malam lamanya diadakan perayaan dan pertunjukan, wayang, topeng, rakit, joget. Pada tengah malam pemuda-pemudi para pembesar kerajaan mendirikan padudusan (tempat upacara mandi), sedang orang-orang yang disebut “kadang haji” diperintahkan untuk mengambil air guna upacara perkawinan. Istana, pagungan, sitiluhur dan paseban dihiasi dengan indah. Dari segala pelosok membanjirlah rakyat hendak menyaksikan dan mengagumi kemeriahan upacara perkawinan Putri Junjung Buih dengan Raden Putra Suryanata.
Pada hari upacara padudusan, Suryanata memakai pakaian upacara perkawinan, demikian pula halnya dengan Raja Junjung Buih. Putri Junjung Buih berpakaian dengan hanya boleh dihadiri oleh empat puluh orang gadis dan wanita-wanita dari pembesar istana. Sebagai selendang dipakaikanlah kain yang dikenakan puteri ketika baru timbul dari dalam air. Putri Junjung Buih mempunyai pengiring empat puluh orang gadis yang jelita. Semuanya memakai baju sutera kuning, sedang pengiring buat Suryanata adalah anak-anak para menteri yang diwajibkan antara lain membawa alat-alat merokok, alat menginang, tikar dan sebagainya.
Baik kaki mempelai perempuan maupun kaki mempelai laki-laki dibungkus dengan sutera kuning. Setelah Suryanata selesai berpakaian, diapun melangkah keluar, dan tiba-tiba terdengarlah suara: “Oh Raden Suryanata, janganlah turun sebelum memakai Mahkota dari langit. Mahkota ini sebagai tanda menjadi raja lebih besar dari raja-raja di bawah angin”. Selanjutnya suara gaib itu menerangkan pula, bahwa mahkota itu mempunyai sifat kesaktian dapat menjadi lebih berat atau menjadi lebih ringan, atau menjadi lebih besar atau menjadi lebih kecil. Hanyalah kepada siapa mahkota ini cocok, dialah yang dapat menjadi raja. Dengan sangat khidmat Raden Suryanata mendengarkan suara itu dan kemudian dengan kain kuning yang dibuat oleh para gadis disambutnyalah mahkota itu dan diletakkan di kepala.
Raden Suryanata kemudian duduk dalam sebuah usungan. Dengan disertai oleh bunyi gamelan dan rentetan dentuman bedil serta tepuk sorak dari rakyat, maka usungan pun diusung menuju istana mempelai perempuan. Sampai di sini maka Putri Junjung Buihpun dijemput dan arak-arakan terus menuju ke padudusan.
Kedua mempelai turun dari usungan dan duduk di atas empat kepala kerbau dan kemudian naik di panggung yang didirikan untuk upacara itu di balai Patani. Kemudian datanglah pemimpin-pemimpin negara terkemuka dan penghulu dari bujangga-bujangga di padudusan. Dengan penuh hormat dan khidmat Lembu Mangkurat mula-mula menyiramkan air mandi di atas ubun-ubun mempelai laki-laki dan perempuan. Sesudah itu menyusul Arya Megatsari, Temenggung Tatah Jiwa, dan penghulu tertinggi dari bujangga-bujangga, yang melakukan penyiraman sambil mengucap mantera dan doa selamat. Ketika telah selesai dengan upacara itu, ditaburkanlah beras kuning dan mata uang berpuluh-puluh ribu banyaknya, sedang bunyi gamelan dan rentetan dentuman senapan terdengar pula dengan hebatnya.
Kedua mempelai dibawa ke istana. Di sini kedua pengantin makan bersama-sama dengan nasi adap-adap, sedangkan menteri-menteri pun mendapat bagiannya pula. Sesudah berlangsung tiga hari, tiga malam, barulah kedua mempelai berkumpul, pada waktu subuh. Untuk merayakan kejadian yang menggembirakan ini, gong Si Rabut Paradah dipalu, sedang rarancakan Si Rarasati dibunyikan dan senapan-senapan ditembakkan berdentum-dentuman. Kebiasaan seperti ini masih terus berlaku terutama pada upacara perkawinan kaum bangsawan.
Masih tujuh hari tujuh malam perayaan diteruskan bertempat di Paseban. Rakyat bersuka ria dengan permainan rakit, mengadu ayam, wayang, topeng, dan kecakapan bermain senjata. Keempat puluh orang anak dara mendapat kewajiban masing-masing, diantaranya menjadi parakan, penjogetan, penjaga tempat tidur, makanan, minuman, sirih pinang, dan alat perhiasan.
Setiap Sabtu raja memberikan kesempatan bawahan dan rakyat untuk menghadapnya di Sitiluhur. Tidak berapa lama kemudian, permaisuri hamil. Karena permaisuri mengidam, ingin sekali memakan buah jambu dipa, maka dikirimlah utusan ke Majapahit untuk mengambilkan buah yang diinginkan itu. Sekadar bahan bingkisan untuk Raja Majapahit dikirim seperti lilin, damar, rotan, tikar, dan dua buah intan yang besar. Kapal berlayar di bawah pimpinan nakhoda Lampung yang segera sampai di Majapahit. Dengan perantaraan Patih Gajah Mada, beliau dibawa menghadap Raja Majapahit. Raja sangat girang setelah mendengar berita yang menggembirakan itu dan dengan segera menitahkan menyerahkan buah-buahan yang diinginkan dengan ditaruh di dalam kotak emas.
Nakhoda Lampung segera mohon diri dan berlayar kembali dengan membawa hadiah-hadiah yang berupa beras, kelapa, gula, minyak kelapa, asam kamal, bawang, rempah-rempah dan kain-kain batik yang indah. Setibanya di Negara Dipa, ia dianugerahi pula oleh Maharaja Suryanata karena telah berhasil dengan baik menjalankan perintah yang dititahkan kepadanya. Setelah cukup bulannya, dan harinya, permaisuripun melahirkan seorang Putra, yang diberi nama Raden Suryaganggawangsa. Peristiwa ini dirayakan dengan membunyikan Si Rabut Paradah, gamelan Si Rarasati, dan senapan-senapan. Kebiasaan ini masih diadakan pada setiap lahirnya anak raja berikutnya.
Beberapa tahun kemudian permaisuri melahirkan kembali seorang putra yang bernama Raden Suryawangsa. Di zaman itu yang takluk kepada Maharaja Suryanata adalah raja-raja Sukadana, Sanggau, dan Sambas, kepala-kepala daerah Batang Lawai, dan Kotawaringin. Juga raja-raja Pasir, Kutai, Karasikan, dan Berau tunduk pula kepada Negara Dipa.
Pada suatu hari raja mengadakan pesta untuk segala Punggawa. Orang ramai bersuka ria. Dengan senda gurau dan gelak tawa. Tetapi sekonyong-konyong raja mengabarkan berita yang mengejutkan mereka, bahwa raja dan permaisuri akan “kembali ke asal”. Oleh karena itu, kedua putra mereka dipercayakan dibimbing atau diasuh Lembu Mangkurat. Rakyatnya diperingatkan jangan meniru-niru pakaian bangsa lain, dan adat serta susunan pemerintahan hendaklah menurut Jawa. Sebab tidak ada satu daerah di bawah angin yang akan dapat menyaingi Jawa. Jadi janganlah pernah menyimpang dari adat Majapahit. Selanjutnya raja mengulangi peringatan raja yang terdahulu, yaitu jangan menanam lada untuk perdagangan karena hal ini akan membawa runtuhnya negara. Juga jangan sekali-sekali menangkap orang-orang yang celaka oleh kekaraman kapal.
Setelah mengucapkan amanat dan pesan itu, dengan tiba-tiba lenyap dan gaiblah raja beserta permaisuri dari pandangan rakyat yang merasa heran dan takjub. Seluruh negara turut bersedih dan berkabung.
Sebagai pengganti Maharaja Suryanata, dinobatkanlah Raden Suryaganggawangsa di padudusan dan di sinilah raja memakai mahkota yang datang dari langit. Setelah Raden Suryaganggawangsa memerintah, rajapun memperkenankan pulang gadis-gadis yang menjadi dayang Maharaja Suryanata. Raja memberi hadiah berupa pakaian dan alat-alat perkakas rumah. Bagi mereka yang ingin kawin, dikawinkan oleh raja.
Setelah Maharaja Suryanata, begitupun Maharaja Suryaganggawangsa memberikan pula kesempatan untuk menghadap setiap hari Sabtu dengan bertempat di Sitiluhur. Lembu Mangkurat diangkat menjadi Mangkubumi, sedang Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa adalah sebagai pengawal. Di bawahnya sebagai jaksa adalah Patih Baras, Patih Wasi, Patih Luhur dan Patih Dulu. Kemudian empat orang Menteri Kemakmuran, Sang Panimba Sagara, Sang Pangaruntun Manau, Sang Pambalah Batung dan Sang Jampang Sasak, yang mempunyai kekuasaan memerintah atas empat puluh orang pasukan keamanan. Juga saudara raja, Pangeran Suryawangsa yang mendapat gelar Dipati mempunyai pula seribu pengiring yang setiap saat siap menerima perintah Mangkubumi.
Lembu Mangkurat selalu mendorong beliau agar cepat beristri karena raja belum mempunyai permaisuri. Namun semua dorongan dan anjuran itu tidak berhasil. Pada suatu hari raja berkata bahwa dia mendengar suara dari paduka ayahanda yang telah gaib (meninggal dunia), mengatakan bahwa raja harus kawin dengan anak Dayang Diparaja. Lembu Mangkurat merasa malu dan khawatir karena dimanakah harus mencari permaisuri yang dimaksudkan itu? Arya Megatsari dan Temenggung Tatah Jiwa tidak dapat pula memberikan keputusan. Oleh karena itu, dicobalah mengirimkan utusan ke semua pelosok, tetapi kebanyakan pulang dengan tangan hampa.
Pada suatu hari, rombongan Singanegara (polisi) yang di dalam perjalanan memudiki sungai sampai di Tanggahulin, di pangkalan Arya Malingkun. Di sini mereka menemui seorang gadis yang sedang mandi di bawah pengawasan seorang pengawalnya. Ketika dia melihat rombongan Singanegara, ia terkejut dan berteriak “He, Dayang Diparaja, lekas! Itu datang rombongan Singanegara (polisi)”. Ketika rombongan Singanegara mendengar nama ini, mereka segera berdayung pulang kembali untuk memberi kabar pada Lembu Mangkurat.
Singantaka dan Singapati, keduanya kepala dari barisan Singanegara (polisi). Mendapat perintah untuk meminta kepada Arya Malingkun, anaknya, guna dijadikan permaisuri raja. Mereka berangkat dengan empat puluh orang perempuan yang akan menjadi pengiring menuju ke Tanggahulin.
Arya Malingkun ternyata tidak sudi menyerahkan anaknya, walaupun sudah dijanjikan anaknya akan menjadi permaisuri, bukanlah untuk dijadikan dayang-dayang, penjogetan atau gundik. Dia tetap berkeras hati menolak. Utusanpun terpaksa pulang tanpa membawa hasil. Ketika Lembu Mangkurat yang mendengar perintahnya ditolak menjadi sangat marah dan mengambil keputusan untuk pergi sendiri ke Tanggahulin.
Lembu Mangkurat berangkat dengan perahu yang memakai tanda kebesaran dengan diiringi oleh punggawa-punggawanya. Tidak berapa lama, tibalah dia di Tanggahulin. Ketika orang-orang di sana melihat kedatangan Lembu Mangkurat, orang-orang tersebut menjadi khawatir dan takut.
Arya Malingkun datang dengan segera mengelu-elukan dan mempersilakan Lembu Mangkurat masuk ke dalam rumah. Dengan gusar dan marah Lembu Mangkurat berkata, apakah Arya Malingkun bersedia untuk menyerahkan anaknya atau tidak? Sekadar untuk menakut-nakuti anaknya, Lembu Mangkurat menikam tangannya dengan pedang. Arya Malingkun terkejut melihat Lembu Mangkurat sama sekali tidak terluka oleh senjata. Dengan agak ketakutan dia memerintahkan orang-orang segera menyuruh menjemput anaknya untuk diserahkan kepada Lembu Mangkurat. Setelah berhasil Lembu Mangkurat kembali bersama gadis tersebut untuk menghadap raja. Tetapi kemudian ternyata raja tidak mau kawin dengan Dayang Diparaja, karena yang diinginkan adalah anaknya. Sekarang timbul kesulitan yang harus dipecahkan. Siapakah yang harus mengawini gadis tersebut? Akhirnya semua sependapat dan setuju bahwa hanya Lembu Mangkuratlah yang pantas dan tepat untuk mengawini Dayang Diparaja. Perkawinan segera dilakukan. Perayaan perkawinan itu berlangsung selama tujuh hari lamanya.
Tidak berapa lama kemudian, Dayang Diparaja hamil. Walaupun telah cukup bulan dan harinya, dia belum juga melahirkan. Barulah sesudah lima belas bulan terasa menderita sakit selama tiga hari hendak bersalin. Dengan bermacam-macam cara dan syarat, dicoba untuk menjauhkan segala pengaruh jahat tetapi semuanya sia-sia belaka, bahkan Lembu Mangkurat sendiri telah putus asa. Tiba-tiba dari dalam kandungan ibu yang sakit itu terdengar suara: “Ooh ayah Lembu Mangkurat, tidaklah melalui jalan yang mudah anaknda akan lahir, tetapi ananda akan keluar dari sisi kiri ibunda”, bedahlah dan perbuatlah ini untuk anaknda”. Sejurus lamanya Lembu Mangkurat di dalam kebimbangan. Tetapi ternyata kewajibannya untuk mempersembahkan seorang permaisuri kepada raja adalah beban yang lebih berat lagi. Lembu Mangkurat membedah sisi kiri perut Dayang Diparaja. Setelah dibedah, Dayang Diparaja meninggal sesudah berpesan supaya menjaga baik-baik anaknya. Seorang anak yang cantik lahir dengan perhiasan yang biasanya dipakai oleh gadis-gadis. Lembu Mangkurat memberikan perintah supaya menyusui anaknya yang diberi nama Putri Huripan. Tiga hari lamanya Putri Huripan tidak mau menyusu. Akhirnya dia sendiri mengatakan bahwa hanya akan minum air susu dari kerbau putih. Ayahnya, Lembu Mangkurat dengan segera memenuhi permintaan tersebut. Sejak itulah terjadi pantangan (tabu) bagi keturunannya untuk memakan daging kerbau putih.
Ketika Arya Malingkun dan istrinya mendengar kematian anaknya, Dayang Diparaja, merekapun mengambil keputusan untuk mengikuti jejak anak yang mereka dicintai tersebut. Sebelum meninggal dunia, Arya Malingkun memakan sirih dan pinang muda, sedangkan istrinya memakan sirih dan pinang tua. Mereka memerintahkan pesuruhnya untuk menanam sepah itu di dalam tanah. Dari sepah tersebut tumbuh jariangau dan pirawas yang akan berguna untuk obat cucunya Putri Huripan. Inilah asal mula jariangau dan perawas tumbuh di Tanggahulin yang sejak saat itu disebut Huripan.
Ketika Putri Huripan sudah akil baligh, dia pun dipersembahkan kepada Raja Suryaganggawangsa sebagai calon permaisuri. Dengan segala upacara kebesaran, perkawinannya dirayakan. Sebagaimana lazimnya, kedua mempelai dimandikan di pancuran air (padudusan) dan kemudian diarak kembali ke istana.
Beberapa lama kemudian, permaisuripun melahirkan seorang Putri bernama Putri Kalarang. Setelah Putri ini dewasa, dia dikawinkan dengan saudara raja, Pangeran Suryawangsa. Karena hanya Pangeran Suryawangsa sajalah yang layak untuk mengawininya. Putri kalarang kemudian melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Carang Lalean. Raden Suryawangsa juga masih mendapat karunia seorang putri yang diberi nama Putri Kalungsu. Atas keinginan Raja Suryaganggawangsa, kedua anak ini, Raden Carang Lalean dan Putri Kalungsu dikawinkan. Pada waktu inilah Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa meninggal dunia.
Pada suatu hari, semua keluarga dan pegawai istana sedang berkumpul dan bersenang-senang, maharaja Suryaganggawangsa dan putri Huripan menerangkan bahwa mereka akan “kembali ke asal”. Kepada Lembu Mangkurat diamanatkan supaya Raden Carang lalean dan Putri Kalungsu diajarkan adat turun-temurun dari raja-raja terdahulu.
Lembu Mangkurat mencoba supaya raja dan permaisuri memalingkan pikiran agar menunda “kembali ke asal”. Tetapi sebelum itu, keduanya telah “menghilang” dari pandangan semua mata yang hadir.
Atas perintah Lembu Mangkurat, dibangunlah sebuah mahligai dan padudusan. Dengan disertai tembakan meriam dan tabuhan gamelan, Raden Carang Lalean dan Putri Kalungsu dimandikan dengan segala upacara. Kemudian raja baru itu pun meletakkan mahkota di atas kepalanya. Di dalam peraturan negara tidak ada perubahan yang diadakan. Setiap hari Sabtu tetap diadakan kesempatan untuk menghadap raja.
Tak lama kemudian permaisuri melahirkan seorang putra yang dinamai Raden Sekar Sungsang. Ketika putra raja itu berumur enam tahun, raja menerangkan akan “kembali ke asal”. Dia menyerahkan pemerintahan kepada Lembu Mangkurat, sementara putra raja belum dewasa. Kemudian raja pun lenyap dari pandangan mata hingga menimbulkan kesedihan seluruh rakyat dan keluarga istana.
Tidak lama sesudah itu, suatu waktu Putri Kalungsu membuat kue juadah. Raden Sekar Sungsang yang masih muda belia itu kadang-kadang mendekati ibunya untuk meminta makan. Karena juadah itu belum masak, ibunya menyuruh Raden Sekar Sungsang pergi dahulu. Tetapi akhirnya, Raden Sekar Sungsang tidak dapat lagi menahan selera nafsunya. Diambilnyalah sedikit kue juadah itu. Melihat hal ini, ibunya menjadi gusar. Dia kemudian memukul Raden Sekar Sungsang dengan sebuah sendok gangsa ke kepalanya. Dengan kepala yang bercucuran darah, Raden Sekar Sungsang lari yang makin lama makin jauh. Akhirnya dia tidak diketahui siapa pun juga. Kemudian dia dilihat oleh seorang pedagang bernama Juragan Balaba yang datang ke Negara Dipa untuk berniaga. Juragan Balaba waktu itu telah menduga bahwa anak tersebut bukanlah anak yang biasa saja, karena dari tubuhnya mengeluarkan cahaya yang bersinar. Karena anak buah kapal ingin segera berangkat, Juragan Balaba pun memutuskan untuk segera berlayar membawa Raden Sekar Sungsang.
Tak lama kemudian permaisuri menitahkan mencari anaknya ke semua pelosok tapi sia-sia saja usahanya itu. Hanya ada beberapa orang saja yang menerangkan bahwa mereka melihat sebuah kapal berlayar dengan membawa seorang anak, tetapi mereka juga tidak dapat memastikan apakah anak itu Raden Sekar Sungsang yang sedang dicari? Walaupun kapal itu dikejar namun tak ketemu juga karena sudah menuju laut lepas. Lembu Mangkurat kemudian menitahkan menyiapkan empat buah kapal untuk pergi ke seberang lautan. Akhirnya kapal-kapal itu sampai di Surabaya. Di sinilah diadakan penyelidikan dimana-mana, tetapi tak seorang pun dapat memberikan penjelasan. Setiap saat Lembu Mangkurat mengirim penyelidik-penyelidik tetapi jejak anak itu tetap tidak ditemukan juga.
Raden Sekar Sungsang yang sementara itu bergelar Ki Mas Lelana, telah dianggap Juragan balaba dan istrinya sebagai anak kandung mereka sendiri. Ayah dan bundanya ini ingin segera dia beristri, tetapi Ki Mas Lelana sendiri belum mempunyai keinginan. Juga setelah ayah angkatnya itu meninggal, Ki Mas Lelana tetap tinggal di Surabaya. Pada suatu hari dia menerangkan cita-citanya untuk pergi ke Negara Dipa bersama dengan Juragan Dampu Awang untuk berniaga. Mula-mula ibu angkat Ki Mas Lelana menahannya, tetapi karena Ki Mas Lelana sudah berketetapan hati untuk pergi, dengan perasaan sedih ibu angkatnya akhirnya mau melepas kepergiannya itu. Dengan segera mereka menyeberangi lautan. Tatkala mereka sampai di Negara Dipa, maka Dampu Awang dan Ki Mas Lelana mulai berniaga. Lembu Mangkurat juga ikut berbelanja pada Dampu Awang dan Ki Mas Lelana. Bahkan Lembu Mangkurat mengharap supaya Ki Mas Lelana tinggal di Negara Dipa sampai musim yang akan datang dan dia akan meyerahkan sebuah rumah dengan pekarangannya. Juragan Dampu Awang diperintahkan supaya memberitahukan hal ini kepada ibu angkat Ki Mas Lelana, bahwa dia akan kembali ke Jawa tahun depan. Sementara itu Lembu Mangkurat mencoba menganjurkan Putri Kalungsu supaya kawin lagi. Dia mengabarkan bahwa seorang saudagar muda turunan dari Raja Majapahit, muda dan tampan sekarang sedang tinggal di rumahnya. Mula-mula permaisuri itu tidak mau, tetapi kemudian ia berubah pikiran dan meminta supaya orang asing itu datang menghadapnya pada hari Sabtu.
Dengan suatu upacara kebesaran, keesokan harinya Lembu Mangkurat yang berpakaian indah dan memakai tanda-tanda kebesaran menuju ke Sitiluhur. Begitu juga dengan Ki Mas Lelana. Ketika tiba di Sitiluhur, duduklah dia di belakang Lembu Mangkurat. Tatkala Putri Kalungsu memandang ke arah pemuda yang gagah itu, maka putri pun jadi jatuh cinta kepadanya. Tatkala Lembu Mangkurat meminta jawaban, Putri Kalungsu menyatakan persetujuannya untuk kawin.
Sebuah padudusan didirikan dalam tujuh hari lamanya. Perkawinan itu dilakukan dengan adat istiadat raja-raja yang terdahulu. Sebagaimana diketahui, Ki Mas Lalana adalah keturunan Raja Majapahit. Oleh karena tidak dilahirkan ke dunia melalui proses bertapa, dia tidak dapat menjadi seorang raja. Seandainya dari perkawinan itu lahir seorang putra, dialah yang akan menjadi raja, karena ibunya berasal dari raja yang lahir dari kekuatan gaib. Dengan demikian, untuk sementara waktu Lembu Mangkurat tetap menjadi wakil raja di Negara Dipa.
Ketika suatu hari Putri Kalungsu sedang membersihkan kepala suaminya, dia melihat tanda bekas luka dan menanyakan sebab-sebabnya. Mula-mula Ki Mas Lelana menerangkan bahwa ia sendiri pun tidak mengetahuinya. Tetapi ketika istrinya terus-menerus mendesak, akhirnya dia menceritakan bagaimana kisahnya ketika masih kecil. Pada suatu hari dia mendapat pukulan dikepala dari ibunya hingga luka, karena meminta berulang -ulang juadah yang sedang dengan ditanak sehingga membuat gusar hati ibunya. Diceritakannya pula bahwa dia kemudian lari dan beberapa tahun tinggal di Jawa karena dibawa oleh Juragan Balaba. Selain itu dia tidak tahu apa-apa. Dengan terperanjat Putri Kalungsu menolak kepala suaminya dari pangkuannya. “Jika demikian engkau adalah anakku Sekar Sungsang” menjerit Putri Kalungsu.
Ki Mas Lelana meniarap dengan menangis di kaki ibunya dan memohon ampun serta mengharap supaya membunuhnya. Putri Kalungsu memanggil Lembu Mangkurat dan kepadanya diceritakan peristiwa yang mengejutkan itu. Lembu Mangkurat tidak mengambil suatu keputusan, mengharap supaya permaisuri sendiri harus memutuskan, apakah yang harus dibuat? Dengan ini permaisuri menetapkan bahwa mereka harus bercerai untuk selama-lamanya, dan permaisuri mengganti nama anaknya dengan Raden Sari Kaburungan. Selanjutnya sejak itu Raden Sari Kaburungan dan ibunya, Putri Kalungsu mempunyai tempat tinggal yang terpisah.
Kemudian Raden Sari Kaburungan dinobatkan menjadi raja. Setahun kemudian raja memindahkan kedudukan negara ke Muara Hulak. Kedudukan baru itu disebut Negara Daha dan sampai sekarang ini tempat itu masih bernama Negara. Di Muara Bahan dibuat sebuah pangkalan (pelabuhan) yang kemudian ramai sekali didatangi para pedagang.
Tidak beberapa lama kemudian menghilanglah secara gaib Putri Kalungsu yang tinggal di Negara Dipa bersama lima ratus orang pengiringnya. Dalam waktu itu pula Lembu Mangkurat meninggal dunia. Sebagai Mangkubumi diangkatlah putera Arya Megatsari yang bernama Arya Taranggana oleh Maharaja Sari Kaburungan, dia adalah seorang yang sangat cerdik lagi bijaksana. Tidak beberapa lama setelah itu, Maharaja Sari Kaburunganpun hilang secara gaib.
Di awal masa pemerintahan Maharaja Sukarama dan keturunannya, Raden Bengawan. Setelah itu, Maharaja Sukarama berpesan kepada ketiga anaknya agar kelak yang berhak menjadi raja adalah cucunya Raden Samudera bukan mereka. Hal itu membuat hati Pangeran Tumanggung gusar dan marah, karena yang menurutnya pantas menjadi raja adalah kakaknya Pangeran Mangkubumi sebagai anak tertua ayahnya, bukan langsung menunjuk (turun) ke cucu. Patih Aria Taranggana menyelamatkan Raden Samudera dengan cara menghanyutkannya. Hal ini secara implisit berimplikasi bahwa Maharaja Sukarama menginginkan agar sepeninggalnya nanti tidak terjadi peristiwa perang saudara karena perebutan kekuasaan antara ketiga anaknya itu.
Sepeninggal ayahnya, Maharaja Sukarama meninggal, Pangeran Mangkubumi diangkat menjadi raja akan tetapi mahkota yang akan digunakannya dalam penobatan tidak sesuai dikepalanya. Begitupun juga ketika Pangeran Tumanggung dan Pangeran Bagalung mencobanya. Sama seperti benda pusaka kerajaan tidak dapat dibunyikan karena mereka melanggar amanat ayahnya. Kepindahan Pangeran Bagalung ke Marabahan untuk menetap di sana sampai masa meninggalnya.
Setelah sekian lama memerintah ahkhirnya terjadi salah paham antara Maharaja Mangkubumi dengan Pangeran Tumanggung tentang masalah perzinahan si Saban dengan si Harum. Atas hasutan Pangeran Tumanggung maka si saban mau membunuh Maharaja Mangkubumi dengan keris Malila.Namun setelah si Saban selesai melakukan pembunuhan, justru si Saban sendiri yang dibunuh oleh Pangeran Tumanggung. Akhirnya Pangeran Tumanggung diangkat menjadi raja, akan tetapi ketika pelaksanaan penobatannya mahkotanya tidak dapat dipakai, dan benda-benda pusaka istana tidak dapat digunakan (dibunyikan).
Cerita kemudian beralih tentang pencarian dan pertemuan Raden Samudera oleh Patih Masih dan anak buahnya setelah mendengar kabar Raden Samudera akan dibunuh oleh Pangeran Tumanggung. Keinginan para Patih untuk menjadikan Raden Samudera sebagai raja. Pada mulanya Raden Samudera menolak menjadi raja, akan tetapi setelah didesak dan dibuat mabuk, Raden Samudera pun akhirnya bersedia menjadi raja.
Pangeran Samudera yang baru diangkat menjadi raja kemudian memerintahkan bawahannya untuk merebut Muara Bahan. Akhirnya Pangeran Samudera dan pengikutnya berhasil merebut Muara Bahan tanpa ada perlawanan. Lalu Pangeran Samudera memulai membangun istana di Banjarmasih. Kemudian ia membentuk sistem pemerintahan seperti yang pernah dilakukan Ampu Jatmaka ketika mendirikan Nagara Dipa. Penobatan Pangeran Samudera sebagai raja Banjarmasih dan kesiapan mereka melawan serangan Pangeran Tumanggung dan bala tentaranya.
Setelah mendengar bandar Muara Bahan direbut oleh kemenakannya, Pangeran Samudera. Pangeran Tumanggungpun segera mengumpulkan bala tentara untuk menyerang kerajaan Bandarmasih. Pertempuranpun terjadi begitu dahsyat. Akhirnya pasukan Pangeran Tumanggung dapat dipukul mundur. Pangeran Samudera minta bantuan Sultan Demak setelah meminta saran Patih Masih.
Cerita selanjutnya tentang kebesaran kerajaan Majapahit di masa pemerintahan raja Tunggul Amatung dan Patih Gajah Mada. Tunggul Amatung kemudian melamar dan mengawini Putri Pasai. Akhirnya Putri Pasaipun hamil dan melahirkan anak lelaki. Pada saat itulah saudara putri, Raja Bungsu datang ke Majapahit dan iapun bersedia tinggal di sana. Raja Bungsu meminta kepada raja Majapahit sebidang tanah untuk tempat berdiam dan membuat langgar. Raja Majapahitpun mengabulkan permintaannya. Setelah ia diam di sana maka banyaklah orang-orang desa yang ingin masuk islam. Raja Bungsu sekali lagi minta izin kepada raja untuk mengislamkan mereka. Permintaannya inipun dikabulkan oleh raja. Akhirnya dimulailah pengislaman desa-desa di sekitar tempat tinggalnya.
Diceritakan pula tentang masuk Islamnya menteri desa bernama petinggi Jipang dan anak, istri, serta keluarganya karena melihat kealiman Raja Bungsu. Petinggi Jipangpun akhirnya jadi penghulu sekaligus orang alim. Di samping cerita keluarga raja Majapahit hingga meninggalnya.
Tersebutlah kisah tentang Juragan Balaba, suruhan Nyai Suta Pinatih dalam perjalanannya mengantar barang dari Gresik menuju ke Bali ditengah laut Blambangan, menemukan tabla yang berisi bayi. Iapun akhirnya kembali menemui dan mengantar bayi itu kepada Nyai Suta Pinatih. Nyai Suta Pinatihpun sangat senang menerima bayi itu. Bayi itupun lalu diangkatnya anak. Nyai Suta Pinatihpun akhirnya kaya raya berkat tuah anak itu.
Diceritakan juga mengenai sebab-sebab keruntuhan kerajaan Majapahit, dimulainya pengislaman pulau Jawa, dan berdirinya kerajaan Demak serta asal mula wali Allah di Jawa. Pangeran Samudera meminta bantuan kepada Sultan Demak agar membantu peperangan melawan Pangeran Tumanggung melalui utusannya Patih Balit. Sultan Demak mau membantu asalkan Pangeran Samudera mau masuk islam. Pangeran Samudera dan keempat Patihnya pun bersedia masuk Islam. Kembali Patih Balit diutus ke Jawa untuk memberi tahu Sultan dengan tentang kesepakatannya itu. Sepulang dari Demak Patih Balit membawa tentara Demak sebanyak seribu orang lengkap dengan senjatanya dan seorang penghulu untuk mengislamkan mereka.
Akhirnya setelah berperang selama empat puluh hari tidak yang menang dan korban yang banyak berjatuhan, bunuh-membunuh antarkeluarga. Pasukan Pangeran Tumanggung banyak yang mati. Patih Aria Tarangganapun memberi usul agar peperangan dilakukan satu lawan satu antara Pangeran Tumanggung dan Pangeran Samudera, dan ia sendiri melawan Patih Masih.
Setelah berhadapan satu lawan satu. Pangeran Samudera tidak ingin ia menjadi durhaka karena menyerang pamannya Pangeran Tumanggung. Ia rela dibunuh pamannya. Mendengar hal itu menangislah Pangeran Tumanggung seraya memeluk kemenakannya itu. Perdamaian pun terjadilah.
Setelah berhasil berdamai dengan Pangeran Tumanggung, Pangeran Samuderapun menjadi raja Banjarmasih dan masuk islam dengan penghulu Demak Kemudian pasukan Demak dan penghulu Demak pulang diikuti oleh pasukan taklukkan Maharaja Suryanata dan Maharaja Sukarama. Aria Taranggana menjadi Patih kerajaan Banjarmasih.Sedangkan empat patih lainnya yaitu Patih Balit, Balitung, Kuwin dan Muhur diangkat menjadi jaksa.
Diceritakan pula tentang silsilah keturunan Sultan Suryanullah sepeninggalnya mangkat. Pemerintahan dilanjutkan oleh anaknya, Pangeran Rahmatullah. Setelah beliau wafat, pemerintahan dilanjutkan oleh anaknya, Sultan Hidayatullah. Pada masa ini Patih Aria Taranggana wafat dan digantikan Kyai Anggadipa. Patih-patih yang lainpun menyusul wafat.
Sultan Marhum Panambahan kemudian menyuruh Raden Rangga Kasuma membawa semua orang suku Biaju untuk membunuh anak dan kemenakan Kyai di Podok. Si Sarang dan pengikutnya sepuluh orang masuk islam. Setelah masuk islam si Sarang dikawinkan Marhum Panambahan dengan Gusti Nurasa dan memperoleh seorang anak lelaki bernama Adan Jumaat. Oleh Marhum Panambahan ia diberi gelar Nanang Sarang.
Marhum Panambahan dan istrinya Ratu Agung sangat mengasihi Raden Rangga Kasuma. Akan tetapi ada saudara Ratu yang iri dengki kepadanya. Keberhasilan siasat licik pangeran Mangkunagara memfitnah Raden Rangga Kasuma hingga akhirnya ia dijatuhi hukuman mati oleh Marhum Panambahan sendiri. Marhum Panambahan berusaha menghibur diri dengan bercengkrama dan melunta di Serapat dan Aluh-Aluh serta tetap menjalankan roda pemerintahan seperti biasa.
Diceritakan bahwa Marhum Panambahan berniat memindahkan kerajaan Banjarmasih ke batang Mangapan karena adanya kekhawatiran, sepeninggalnya nanti Banjarmasih akan hancur karena banyak orang yang ingin menguasai daerah ini. Akhirnya kerajaanpun dipindahkan karena serangan Belanda.
Mulai terjalinnya hubungan kerajaan Banjar di Batang Banyu dengan negeri Pasir melalui sarana perkawinan dan terdapatnya silsilah keturunan Marhum Panambahan serta terjadinya kasus pencurian di Martapura oleh orang Sukadana. Kejadian itu membuat Marhum Panambahan memberikan upeti dari Sukadana kepada si Dayang Gilang dan tidak lagi diserahkan ke Banjarmasih. Marhum Panambahan juga menyerahkan urusan Kota Waringin kepada Dipati Ngganding.
Diceritakan silsilah keturunan Marhum Panambahan dari pihak cucu. Terjalinnya hubungan kekeluargaan antara Pasir dan Banjar ketika Raden Arya Mandalika dari Pasir kawin dengan Gusti Limbuk dari Banjar. Sejak itu Pasir tidak lagi mengantar upeti ke Banjar. Pada saat Kyai Martasura pergi ke Makasar, rajanya, Karaing Patigaloang memintanya agar menyampaikan pesan kepada Marhum Panambahan untuk meminjamkan Pasir kepadanya untuk berdagang dengan sumpah jika ada orang Makasar yang berbuat aniaya terhadap Banjar, mudah-mudahan dibinasakan oleh Allah. Marhum Panambahan pun setuju meminjamkan Pasir. Sejak itu Pasir dan daerah-daerah di sekitarnya tidak membayar upeti ke Banjar. Marhum Panambahan akhirnya melarang raja Sambas untuk mengantar upeti ke negeri Banjar kecuali jika Marhum Panambahan sendiri menghendakinya.
Diceritakan pula silsilah keturunan Marhum Panambahan dari perkawinan pihak cucu. Kerajaan Banjar berkabung karena keluarga dan kerabat keluarga secara bergantian meninggal dunia. Marhum Panambahan mengirim utusannya ke Mataram untuk menjalin persahabatan dengan berbagai persembahan. Sepulangnya para utusan itu yaitu Pangeran Dipati Tapasana, Kyai Tumanggung Raksanagara, dan Kyai Narangbaya, selain diberi bingkisan oleh raja Mataram, mereka juga dihadiahi gundik oleh Marhum Panambahan.
Sepeninggal Marhum Panambahan lalu wafat maka penggantinya adalah Pangeran Dipati Tuha. Ia dilantik dengan gelar sultan Hinayatullah atau Ratu Agung. Marhum Panambahan meninggalkan banyak buyut. Ratu Agung Memberi gelar kebangsawanan kepada raja-raja dibawahnya. Cerita keberangkatan Ratu Kota Waringin untuk memerintah daerah Kota Waringin dan sekitarnya hingga ia harus kembali ke Banjar karena Ratu Agung meninggal dan harus segera ada penggantinya. Pangeran Kasuma Alam dilantik menjadi raja dengan segala kebesaran istana. Ia bergelar Sultan Saidullah atau Ratu Anom.
Ratu Kota Waringin memperjelas kedudukan raja sebagai kepala negara yang langsung dipegang oleh Ratu Anom dan kedudukan perdana menteri sebagai kepala pemerintahan yang langsung dipegang Pangeran di-Darat sebagai Panambahan di-Darat.
Panambahan di-Darat meninggal dunia dan digantikan Ratu Kota Waringin yang bergelar Ratu Bagawan. Kedua orang kepala pemerintahan itu memerintah selama lima tahun. Akhirnya Ratu Bagawan pun mengundurkan diri.
Ratu Anom meminta persetujuan bawahannya untuk menjadikan Dipati Tapasana sebagai kepala pemerintahan. Merekapun setuju mengangkatnya menjadi kepala pemerintahan dengan gelar Dipati Mangkubumi. Kehidupan keluarga Ratu Anom hingga dirinya meninggal dunia. Setelah terlebih dahulu Ratu Bagawan meninggal. Atas saran Ratu Hayu dan pembesar istana lainnya maka Raden Halit (Pangeran Mangkubumi) dilantik menjadi raja menggantikan Ratu Anom yang wafat dengan gelar Sultan Riayatullah atau Pangeran Ratu.
Pangeran Mas Dipati menjadi kepala pemerintahan. Terjadinya perkawinan antara Raden Subangsa dengan Mas Surabaya, anak raja Silaparang dan memperoleh anak bernama Raden Mataram. Raden Mataram yang piatu ini kawin dengan Mas Panghulu, anak raja Silaparang juga yang tinggal di Sumbawa dan beroleh anak bernama Raden Bantan.
Setelah memperbaiki perahunya, Pangeran Dipati Anom menyuruh Raden Panjang Jiwa dan Kyai Sutajaya untuk minta bantuan Biaju menyerang Banjar karena Pangeran Ratu hendak menyerahkan kerajaan kepada Raden Bagus. Hingga terjadi perbedaan pendapat dan pandangan dalam menyikapi keinginan Pangeran Dipati Anom yang ingin secepatnya menghendaki pemindahan kekuasaan dari Pangeran Ratu kepada Raden Bagus. Silsilah keturunan raja-raja Kota Waringin itu berasal dari kerabat raja Banjar sejak raja Marhum Panambahan hingga Ratu Agung (Pangeran Dipati Tuha/Sultan Hinayatullah).
(disadur dari cerita rkyat banjar)

Sabtu, 02 Maret 2019

PETAKA 23 MEI 1997 DI BANJARMASIN


PETAKA 23 MEI DI BANJARMASIN

Petaka Tragedi 23 Mei 1997 di Banjarmasin
Jumat pagi tanggal 23 Mei 1997 itu suasana di Kota BANJARMASIN masih seperti hari-hari sebelumnya. Warga beraktivitas seperti biasa, seolah-olah memang tidak akan terjadi apa-apa. Tapi, siapa nyana, selepas siang nanti, pusat nadi Kalimantan Selatan tersebut bakal berubah menjadi Neraka.

Hari itu memang akan ada hajatan besar di pusat kota menjelang Pemilu 1997. Adalah Golkar yang punya giliran berkampanye pada Jumat siang. Kampanye dipusatkan di Lapangan Kamboja yang akan diramaikan dengan panggung hiburan rakyat dan menghadirkan artis-artis ibukota.
Ini adalah kampanye putaran terakhir sehingga bakal digelar besar-besaran. Selain itu, dua tamu agung datang dari Jakarta, yakni Menteri Sekretaris Kabinet (Menseskab) Saadilah Mursjid dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Hasan Basri (Hermawan Sulistyo dalam Syamsuddin Haris, Kecurangan dan Perlawanan Rakyat dalam Pemilu 1997, 1999:186).


Keliping Surat Kabar 23 Mei 1997

Golkar kala itu masih menjadi kekuatan terbesar di antara 2 kontestan pemilu lainnya yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Didukung penuh oleh rezim Orde Baru, Golkar memang kerap mengerahkan komponen penting pemerintahan untuk mendukung aksi kampanyenya, termasuk di Banjarmasin itu. Tak ada yang mengira, petaka segera tiba.
Prahara Selepas Salat Jumat
Raungan sepeda motor yang bersahut-sahutan di pusat kota siang itu. Anak-anak muda yang hendak meramaikan kampanye Golkar itu tampaknya gagal paham bahwa mereka berulah pada waktu yang salah. Tengah hari itu, masyarakat muslim di Banjarmasin sedang menunaikan ibadah salat Jumat.
Aparat keamanan sebenarnya sudah melarang massa kampanye Golkar melewati Masjid Noor yang terletak di Jalan Pangeran Samudera, Kota Banjarmasin, dengan melakukan pemblokiran. Pasalnya, salat Jumat masih berlangsung dan para jamaah meluber hingga ke jalan di depan halaman muka masjid tersebut.
Namun, para pengikut kampanye partai penguasa yang didukung Satgas Golkar tetap ngotot ingin melalui jalan itu dengan dalih bahwa sembahyang Jumat sudah hampir selesai, dan lantas terjadilah awal tragedi itu.
Selepas ibadah Jumat, massa berdatangan dari segala penjuru. Sasaran pertama yang dituju adalah Kantor DPD Golkar Kalimantan Selatan (Tempo Interaktif, Volume 4, 1997). Massa pun terlibat bentrok dengan Satgas Golkar dari Pemuda Pancasila (PP) dan Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI) yang beranggotakan anak-anak dari keluarga militer.
Jumlah massa jauh lebih banyak dan semakin besar jika dibandingkan dengan Satgas Golkar. Sejak pukul 14.00 atau jam 2 siang, situasi kian genting. Massa yang hampir seluruhnya membawa senjata tajam bergerak ke pusat kota dan menghancurkan apa saja yang mereka temui.
"Suasana sangat mengerikan. Massa bahkan mulai membawa senjata tajam seperti celurit dan parang," kenang Iin, saksi mata yang saat itu menjadi anggota pemadam kebakaran (Banjarmasin Post, 23 Mei 2014)
Gedung, rumah, mobil, dan berbagai fasilitas umum lainnya tak luput dari amuk massa yang sudah terlanjur kalap. Tak hanya benda-benda mati saja yang diremuk, bentrok fisik antar-saudara sebangsa pun sulit dihindari.
Ibarat medan perang, korban jiwa pun mulai berjatuhan, baik mereka yang memang terlibat pertikaian sejak mula, terlebih lagi orang-orang tak berdosa yang juga harus menjadi tumbal.

Kuburan Massal Korban Kerusuhan 23 Mei 1997 Di Banjarmsin

Intoleran Biang Kerusuhan
Tragedi di Banjarmasin berlangsung hingga tengah malam, bahkan dini hari. Insiden ini tidak hanya mempertarungkan dua kubu yang semula berseteru saja, yakni simpatisan serta Satgas Golkar melawan massa ditambah tindakan represif dari aparat keamanan, tapi kemudian melebar hingga melibatkan banyak pihak lainnya.

Bermula dari kampanye politik, kerusuhan di Banjarmasin berkembang menjadi perang berbalut sentimen SARA. Kericuhan itu menjadi besar setelah terdengar isu bahwa Masjid Noor akan dibakar. Massa pun bergolak, tidak hanya masyarakat muslim asli saja yang bergerak, melainkan juga warga dari etnis Madura yang memang terkenal fanatik.
Kerukunan beragama dan bermasyarakat yang awalnya sangat terjaga benar-benar rusak. Sebagai contoh ikut terlibatnya warga pendatang dari Maluku dengan warga pendatang lainnya dari Sulawesi Selatan (Bugis, Buton, dan Makassar). Mereka yang semula hidup berdampingan tiba-tiba berubah menjadi musuh bebuyutan (Panji Masyarakat, 2000:69).
Warga keturunan Cina yang telah menetap lama di Banjarmasin juga tak luput dari sasaran. Isu kesenjangan sosial pun digoreng dan menjadi pemantik yang mujarab untuk semakin membakar murka massa. Permukiman orang-orang peranakan Tionghoa dirusak, dibakar, juga dijarah.

Ada dua alasan pokok yang melatarbelakangi kerusuhan sosial di Banjarmasin itu. Selain persaingan politik antara Golkar dan PPP yang juga memiliki massa besar, sentimen anti-Cina turut pula berperan besar, yakni terjadinya kesenjangan sosial dan ekonomi antara masyarakat lokal (orang Banjar) dengan warga keturunan Tionghoa (Muhammad Hisyam, Krisis Masa Kini dan Orde Baru, 2017:225).
Salah Satu yang Terparah Selama Orba
Dilihat dari skala kerusuhan, jumlah korban dan kerugian yang ditimbulkan, tragedi 23 Mei 1997 di Banjarmasin termasuk salah satu yang paling besar dalam sejarah Orde Baru (Orba). Namun, akibat ketertutupan pemerintah, tidak ada laporan yang akurasinya bisa dipercaya penuh mengenai apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan pada waktu itu. Berita-berita di pers pun sangat terbatas dan tidak sebanding (Sulistyo, 1999:185).

Menurut data hasil investigasi Tim Pencari Faka Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), tercatat 123 korban tewas, 118 orang luka-luka, dan 179 lainnya hilang. Sedangkan Komnas HAM melaporkan ada 199 orang yang hilang namun 2 di antaranya berhasil ditemukan.
Dari jumlah korban yang tewas, sebagian besar adalah mereka yang sama sekali tidak terlibat konflik. Mereka ditemukan mati hangus karena terjebak di gedung-gedung yang dibakar oleh massa.

Kerugian dari sisi materi juga sangat besar. Banyak gedung, baik pusat pertokoan, kantor pemerintahan, tempat peribadatan, sekolah, hingga rumah warga, termasuk kediaman seorang pendeta, bahkan rumah panti jompo di Banjarmasin yang dirusak, dibakar, serta dihancurkan.

Berdasarkan data dari Lembaga Bantuan Hukum Nusantara (LBHN) Banjarmasin, pusat perbelanjaan yang hancur atau dibakar antara lain Junjung Buih Plaza, Lima Cahaya Departemen Store, Swalayan Sari Kaya, Swalayan Siaolatama, Mitra Plaza, Arjuna Plaza, dan Banjarmasin Teater. Hotel Kalimantan (tempat menginap tamu-tamu politik Golkar dari Jakarta), Bank Lippo, Apotek Casio, Restoran Fajar, juga mengalami hal serupa.
Selain itu, ada 5 gedung gereja dan 1 klenteng yang dirusak. Begitu pula dengan Kantor DPD I Golkar Kalimantan Selatan dan sejumlah kantor pemerintahan, kantor-kantor pelayanan publik, hingga beberapa unit kendaraan bermotor.
Kerusuhan 23 Mei 1997 masih menyisakan kenangan pahit bagi warga Banjarmasin hingga kini. Salah satu akar permasalahannya ternyata bukan hanya sentimen beraroma SARA semata, tapi juga ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintahan saat itu.

Indikasi tersebut seperti yang terungkap dari pernyataan Asmara Nababan, anggota Komnas HAM, yang turun langsung ke Banjarmasin pada 30 Mei 1997. Dalam wawancaranya dengan Tempo, ia mengatakan:
“Ada kejengkelan yang akumulatif terhadap birokrasi. Celakanya, pemerintah seringkali tidak memperhatikan hal itu. Bukankah cukup bukti bahwa rakyat lebih percaya kepada gosip daripada dengan keterangan resmi pemerintah seperti Gubernur, Pangdam, atau Walikota?”
Tampaknya, kecenderungan semacam itu mulai terjadi lagi pada masyarakat Indonesia sekarang ini.

Sumber: AnonymousCyberHolic1997
Tragedi 23 Mei 1997 (Mengenang Jumat Petaka di Banjarmasin) . (Online). (Diakses 24 Mei 2017).

BUDAYA BAPUKUNG MASYARAKAT MELAYU BANJAR

Bapukung atau Bepukung adalah menempatkan Bayi di ayunan dalam posisi duduk dengan di balut dengan kain yg memberikan efek rasa nyaman kepada si bayi agar tidurnya lbh nyenyak dan pulas.

BUDAYA BAPUKUNG MASYARAKAT MELAYU BANJAR 

Bagi masyarakat melayu BANJAR, budaya berendoi mereka unik sekali. Kedudukannya nampak tidak selesa dan jika salah faham boleh ditafsirkan seperti mahu menjerat bayi. Sebenarnya, budaya yang dinamakan ‘Bapukung’ bukan sekadar untuk majlis cukur jambul tetapi dipraktikkan sejak dahulu sehingga ke hari ini.
Di mana sahaja, bayi diletak dalam buaian dalam cara yang sama menunjukkan budaya bapukung yang masih diamalkan.
Pelik melihat budaya ini kerana kedudukan bayi bukan dibaringkan dalam buaian tetapi diletak seperti sedang duduk dan seterusnya ada ikatan sehelai kain batik (Tapih Bahalai ) lain yang menjerut badannya di bahagian atas (bahagian leher). Walaupun keadaan bayi kelihatan amat menyeksakan, namun sebenarnya, keadaan sebegini menyebabkan bayi tersebut merasa selesa seperti badannya sedang didakap erat oleh Bondanya. Budaya bapukung sebenarnya satu kaedah popular untuk memberikan rasa selesa dan dakapan kepada bayi untuk membolehkannya tidur lebih lama tanpa rasa terganggu.
Menurut Ashmah Ramli , bayi seawal usia sebulan sudah boleh dipukung. Bayi akan merasa lebih selesa berbanding kaedah buaian yang biasa. Memang kelihatan seperti terseksa tapi sebaliknya bayi lebih selesa dan dapat tidur lama. Kanak-kanak sehingga usia sembilan bulan masih boleh dipukung. Cara membalut bayi mestilah kemas dan padat untuk membolehkan bayi merasa seperti dalam rahim ibu. Biasanya, orang Banjar akan membuat satu pondok kecil sekadar boleh memuatkan buaian bapukung dan sesuai dihayun ke depan dan ke belakang
Justeru, orang Banjar yang berkebun dahulu tidak ada masalah membawa anak bersama ke kebun dengan menggunakan bapukung. Pada kebiasaannya, ketika mendodoi anak dalam bapukung, ada nyanyian khusus yang digelar ‘dudoi lagu Banjar’. Asmah Ramli (2012)
mengatakan lagu yang dinyanyikan adalah seperti berikut :
“Yun ayun anakku ayun, ayun di dalam, dalam ayunan, lakas ba pajam, lakasi guring, umma aur banyak gawian.
Lailahaillallah Nabi Muhammad pasuruh Allah. Yuna dinana anakku guring, guring di dalam ayunan , anaku guring dalam Bismillah, jauh culas jauhkan dangki Kur ... semangat hidup baiman”.
Dodoian sekadar perlahan ke depan dan ke belakang tanpa perlu henjutan seperti buaian lain. Tidak sampai beberapa lama, matanya mula terpejam dan terlena. Menurutnya lagi, jika dibiarkan begitu, bayi itu akan terus lena tanpa perlu didodoi lagi.
Menurut temuramah yang telah dijalankan iaitu Encik Samsudin Bin Jilani berumur 62 tahun pula, beliau telah menceritakan serba sedikit mengenai masyarakat Melayu Banjar, Pukung adalah salah satu cara yang digunakan oleh orang Melayu Banjar khususnya bagi menidurkan bayi. Mereka akan membuat buaian menggunakan kain batik atau pelikat. Buaian ini akan dipanggil ayunan.
Bayi akan diletakkan di dalam ayunan dengan cara bayi tersebut akan berada dalam keadaan duduk dan kain tersebut akan diikat sehingga ke bahagian leher bayi tersebut. Oleh itu, bayi yang berada dalam pukongan hanya akan menampakkan kepala sahaja. Bayi yang berada dalam keadaan ini membolehkan mereka tertidur. Ini merupakan salah satu cara yang berbeza daripada masyarakat lain bagi menidurkan bayi.
Picture by : banaxillustration
Descriptions : Poscard and Stamp with Banjar Culture Illustration. Banjarese Culture lifestyle. Mengetengahkan budaya dalam masyarakat Banjar yang kurang dikenali segelintir masyarakat Malaysia. What your perspective on my method to promote the culture? Berikan komen dan pendapat yang bernas.

# FolksOfBanjar # bapukung
# banjarmalaysia

Jumat, 01 Maret 2019

PUTERI MAYANG SARI PUTERI BANJAR DI TANAH DAYAK

Lukisan Puteri Mayang Sari 

Puteri Mayang Sari Binti DYMM Paduka Seri Sultan Surian Syah ( Raja Banjar I)



Makam Puteri Mayang Sari
Desa Jaar Taming Layang Kalimantan Tengah


Bangunan berwarna kuning berbentuk rumah adat Banjar itu, memang agak tersembunyi di balik rimbunan pohon karet yang tumbuh subur. Kalau kita bepergian dari Banjarmasin ke Tamiang Layang dan melintasi Desa Jaar, bangunan itu tidak tampak dari jalan raya. Sebuah bangunan sekolah dasar akan menghalangi pandangan kita. Menurut tetuha adat di Desa Jaar, di dalam bangunan berbentuk rumah adat Banjar itu terdapat pusara Putri Mayang Sari. Ia adalah putri Sultan Banjar yang pernah menjadi pemimpin di Tanah Dayak Ma'anyan. Karena itu bagi orang Dayak Maanyan, bangunan unik itu mempunyai arti dan makna tersendiri.

Tulisan ini bertujuan memaparkan hubungan antara Urang Banjar dan Urang Ma'anyan yang bersumber dari tradisi lisan. Dalam mengumpulkan data untuk bahan tulisan ini, saya (Pdt. DR. Marko Mahin, MA.) dibantu Pdt.Hadi Saputra Miter, S.Th putra Dayak Ma'anyan asal Tamiang Layang, alumnus STT-GKE Banjarmasin.


Batu Nisan Puteri Mayang Sari
Raja Mata Habang 
( DYMM Paduka Seri Sultan Surian Syah)

Putri Mayang Sari Menurut sejarah lisan orang Dayak Ma'anyan, Mayang Sari yang adalah putri kepada Sultan Suriansyah yang bergelar Panembahan Batu Habang dari istri keduanya, Noorhayati. Putri Mayang Sari dilahirkan di Keraton Peristirahatan Kayu Tangi (Martapura) pada hari Arba 13 Juni 1585, yang dalam penanggalan Dayak Ma'anyan disebut Wulan Kasawalas Paras Kajang Mamma'i. Sedangkan Noorhayati sendiri, menurut tradisi lisan orang Dayak Ma'anyan adalah perempuan Ma'anyan cucu dari Labai Lamiah, tokoh mubaligh Suku Dayak Ma'anyan.

Putri Mayang Sari diserahkan oleh Sultan Suriansyah kepada Uria Mapas, pemimpin dari tanah Ma'anyan di wilayah Jaar Sangarasi. Dituturkan, dalam kesalah fahaman Sultan Surian Syah membunuh saudara Uria Mapas yang bernama Uria Rin'nyan yaitu pemimpin di wilayah Hadiwalang yang sekarang bernama Dayu. Akibatnya, Sultan Surian Syah terkena denda Adat Bali, yaitu selain membayar sejumlah barang adat juga harus menyerahkan anaknya sebagai ganti orang yang dibunuhnya.

Setelah Uria Mapas meninggal dunia, penduduk setempat mengangkat Putri Mayang Sari untuk memimpin daerah Sangarasi yang sekarang bernama Ja'ar --lima kilometer dari Tamiang Layang. Kepemimpinan Mayang Sari sangat diakui masyarakat setempat, karena selain putri dari seorang Sultan Banjar, ia adalah saudara angkat Uria Mapas Negara. Dalam tradisi Dayak Ma'anyan, Putri Mayang Sari dicitrakan sebagai perempuan berambut panjang dan berparas cantik jelita Namun bukan hanya kecantikan yang mempesona dimilikinya, tetapi kemampuan menyejahterakan rakyat di wilayah yang dipimpinnya. Dituturkan, pada masa hidupnya Putri Mayang Sari tidak pernah diam. Ia rajin mengadakan kunjungan ke desa untuk mengetahui kehidupan rakyat yang sebenarnya, dan secara khusus untuk mengetahui bagaimana ketahanan pangan masyarakat. Ia selalu mengawasi bagaimana hasil panen masyarakat. Untuk meningkatkan hasil panen, Putri Mayang Sari menganjurkan agar penduduk menanam padi di daerah berair, karena hasil panennya lebih baik daripada di daerah kering (tegalan).

Rute kunjungan Putri Mayang Sari setiap tahun adalah melewati daerah Timur yakni Uwei, Jangkung, Waruken, Tanjung. Kemudian daerah Barat yaitu Tangkan, Serabun, Beto, Dayu, Patai, Harara dan kembali ke Jaar Sangarasi. Menurut kepercayaan orang Dayak Ma'anyan, daerah atau wilayah yang dikunjungi atau dilewati Putri Mayang Sari itu selalu mendapat berkah-keberuntungan, misalnya pohon buah berbuah lebat. Konon, buah langsat di daerah Tanjung yang terkenal manis dan disenangi banyak orang adalah karena daerah Tanjung adalah tempat singgah Putri Mayang Sari.

Kendati beragama Islam, dalam menjalankan pemerintahannya Putri Mayang Sari menggunakan sistem mantir epat pangulu isa yaitu sistem pemerintahan tradisional Dayak Ma'anyan. Dalam pola kepemimpinan ini, satu wilayah ditangani empat pemimpin (mantir) dan satu pengulu. Empat mantir mengurus masalah pemerintahan, sedangkan pengulu mengatur seluk beluk Hukum Adat. Dalam pemerintahannya memang ada dua hal yang diprioritaskan, yaitu terpenuhnya kebutuhan pangan rakyat dan tegaknya Hukum Adat yang bagi orang Dayak Ma'anyan adalah tata aturan kehidupan.


Setelah mengalami sakit selama tiga hari, pada 15 Oktober 1615 atau dalam penanggalan Dayak Ma'anyan disebut Wulan Katiga Paras Kajang Minau, Putri Mayang sari wafat. Karena kecintaan rakyat kepadanya, jasadnya tidak langsung dikuburkan, tetapi disemayamkan terlebih dahulu di dalam rumah hingga kering. Setelah mengering, karena cairan dari mayat disalurkan ke dalam tempayan, jasad Putri Mayang dibawa ke seluruh daerah agar semua rakyat mendapat kesempatan memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin mereka yang telah meninggal dunia. Akhirnya, jenazah Putri disemayamkan di Sangarasi yaitu wilayah Jaar sekarang.

Urang Banjar dan Ma'anyan Tradisi lisan orang Dayak Ma'anyan memang banyak bertutur tentang relasi antara Urang Banjar dan Urang Ma'anyan. Misalnya dituturkan, orang Ma'anyan pada mulanya adalah penghuni Kayu Tangi. Karena itu, orang Ma'anyan, dalam bahasa ritual wadian, menyebut dirinya sebagai anak nanyu hengka Kayu Tangi. Hal itu untuk menunjukkan, sebelum hidup terserak di beberapa wilayah sekarang, mereka tinggal di Kayu Tangi, yaitu wilayah yang sekarang berkembang menjadi Kota Banjarmasin.

Dalam Sejarah Banjar (2003: 36-7) dituliskan, sebelum berdirinya Kesultanan Banjarmasin pada 1526, bahkan sebelum adanya Negara Dipa dan Negara Daha sebagai cikal-bakal Kesultanan Banjarmasin, berdiri satu negara etnik orang Ma'anyan yang bernama Nansarunai. Karena kuatnya usak jawa atau Jawa yang merusak yaitu gempuran dari Majapahit, mereka harus pergi dari Nansarunai.

Juga dituturkan tentang seorang tokoh bernama Labai Lamiah. Konon, ia adalah orang Dayak Ma'anyan pertama yang menjadi muallaf dan mubaligh. Ia berdakwah di wilayah Nagara yang masyarakatnya pada waktu itu adalah campuran antara suku Dayak Ma'anyan dan mantan prajurit Majapahit yang masih memeluk agama Hindu Syiwa. Labai Lamiah berhasil mengislamkan orang-orang Ma'anyan yang ada di Banua Lawas atau sekarang disebut Pasar Arba, tidak jauh dari Kalua. Akibatnya, Balai Adat orang Ma'anyan di tempat itu berubah fungsi menjadi Masjid. Hingga sekarang, di halaman Masjid itu masih dapat ditemukan beberapa guci yang menjadi simbol keberadaan orang Ma'anyan.

Orang Dayak Ma'anyan yang memeluk Islam disebut jari hakey. Pada awalnya, sebutan hakey ditujukan kepada utusan Raja Banjar yang hadir dalam Ijambe (upacara kematian). Ketika mereka dengan sopan menolak memakan daging babi yang dihidangkan dan menjelaskan alasannya, orang Ma'anyan berkata: "O ... hakahiye sa" (o ... begitukah). Berdasarkan ucapan itu, semua orang Banjar, muslim dan orang Dayak Ma'anyan yang beragama Islam disebut hakey. Adanya kaum yang bahakey membuat orang Ma'anyan tidak lagi satu warna. Mereka yang bertahan dengan adat, pergi meninggalkan wilayah Kerajaan Banjar mencari tempat baru. Dipimpin Uria Napulangit, mereka pergi ke dan menetap di tepi Sungai Siong di sebelah Barat Daya Tamiang Layang sekarang.

Namun rasa persaudaraan mereka dengan kerabat yang bahakey tetap terjalin. Hal itu tampak dengan dibangunnya Balai Adat yang dikhususkan untuk muslim, yang mereka sebut Balai Hakey. Bangunan ini dapat dilihat dalam upacara besar Dayak Ma'anyan seperti Ijambe (upacara pembakaran mayat), khususnya di masyarakat Paju Epat (nama wilayah empat kampung besar). Di Balai itu, masakan yang disajikan harus disembelih secara Islam oleh perwakilan yang beragama Islam.Hingga kini, Balai Hakey tetap didirikan oleh orang Dayak Ma'anyan setiap kali ada Ijambe. Balai yang kokoh, sekokoh sikap toleransi orang Ma'anyan.

Perekat Sosial Hikmat atau kearifan memang ada di mana-mana. Ia berseru di pinggir jalan memanggil orang untuk menghampirinya, demikian kata Penulis Amsal. Ia ada di mana saja termasuk di dalam tradisi lisan. Bagi masyarakat yang belum mengenal budaya tulis-menulis, tradisi lisan merupakan sarana untuk menyimpan sejarah silam kehidupan suku. Lebih dari itu, tradisi lisan juga sarana untuk menguraikan jati diri. Karena itu, dalam upacara penting misalnya Ijambe, tradisi lisan selalu dituturkan.

Paparan di atas memperlihatkan betapa dahsyatnya Urang Ma'anyan menguraikan jati dirinya ketika berhadapan dengan Urang Banjar. Tentu saja, hal itu dilakukan karena Banjar tidak sekadar identitas suku, tetapi juga identitas politik, sosial, ekonomi dan agama. Banjar sebagai identitas agama tampak dalam adagium 'Banjar berarti Islam dan Islam berarti Banjar'.

Namun bagi orang Ma'anyan, adagium bersosok dingin itu tidak harus dikontestasikan. Tidak perlu jalan merah yang sarat amarah, apalagi pertumpahan darah. Bagi mereka, Banjar adalah hakey yaitu saudara mereka yang memeluk agama Islam. Tradisi lisan telah menjadi referensi kultural mereka untuk bersikap ramah kepada siapa pun, kendati berbeda agama dan keyakinan. Juga menjadi rujukan politik, ketika menerima seseorang yang tidak seagama dengan mereka untuk menjadi pemimpin mereka. Tradisi lisan telah menjadi sumber kearifan untuk merekatkan persaudaraan dan kekerabatan.

Tradisi lisan memang seumpama teks Kitab Suci, punya daya paksa yang tinggi namun cara kerjanya sangat halus sehingga tidak terasa sama sekali. Hal ini tampak dari berdirinya bangunan rumah adat Banjar yang adalah makam Putri Mayang Sari di Desa Jaar, Tamiang Layang, Kalteng. Mereka mendirikan bangunan itu berdasarkan tradisi lisan Putri Banjar di Tanah Ma'anyan. Lebih jauh lagi, tempat pemakaman Putri Mayang Sari itu baru saja dipugar oleh Pemkab Barito Timur. Ini petanda, sekarang pun beliau masih dihormati masyarakat setempat.

Secara fisik, bangunan itu adalah makam Putri Mayang Sari. Namun secara metafisik, bangunan itu adalah terusan batin persaudaraan yang menghubungkan Urang Dayak Ma'anyan dengan Urang Banjar. Juga menjadi media budaya dan sumber sejarah, di mana mereka dapat merunut benang merah kekerabatan dengan orang Banjar dan kemudian berkata: "Kalian bukan orang lain."

Sumber tulisan diambil dari catatan Sdr. Hady S. M, S.Th.

Original post : http://www.facebook.com/folksbanjar1526

Silakan Save & Share dengan mencantumkan sumbernya  -Terima Kasih

PANTUN BANJAR


Pantun Banjar adalah pantun yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar. Bahasa Banjar dituturkan oleh suku Melayu Banjar yang umumnya digunakan di Kalimantan Selatan dan provinsi tetangganya serta daerah perantauan suku Banjar di Sumatera dan Semenanjung Malaya.

Definisi pantun Banjar menurut rumusan Tajuddin Noor Ganie (2006) adalah puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi khusus yang berlaku dalam khasanah folklor Banjar.

Etimologi, Definisi, dan Bentuk FisikSunting

Pantun Banjar merupakan pengembangan lebih lanjut dari Peribahasa Banjar. Istilah pantun sendiri menurut Brensetter sebagaimana yang dikutipkan Winstead (dalam Usman, 1954) berasal dari akar kata tun yang kemudian berubah menjadi tuntun yang artinya teratur atau tersusun. Hampir mirip dengan tuntun adalah tonton dalam bahasa Tagalog artinya berbicara menurut aturan tertentu (dalam Semi, 1993:146-147).

Sesuai dengan asal usul etimologisnya yang demikian itu, maka pantun memang identik dengan seperangkat kosa-kata yang disusun sedemikian rupa dengan merujuk kepada sejumlah kriteria konvensional menyangkut bentuk fisik dan bentuk mental puisi rakyat anonim.

Setidak-tidaknya ada 6 kriteria konvensional yang harus dirujuk dalam hal bentuk fisik dan bentuk mental pantun ini, yakni :

  1. setiap barisnya dibentuk dengan jumlah kata minimal 4 buah
  2. jumlah baris dalam satu baitnya minimal 2 baris (pantun kilat) dan 4 baris (pantun biasa dan pantun berkait)
  3. pola formulaik persajakannya merujuk kepada sajak akhir vertikal dengan pola a/a (pantun kilat), a/a/a/a, a/a/b/b, dan a/b/a/b (pantun biasa dan pantun berkait)
  4. khusus untuk pantun kilat, baris 1 berstatus sampiran dan baris 2 berstatus isi,
  5. khusus untuk pantun biasa dan pantun berkait, baris 1-2 berstatus sampiran dan baris 3-4 berstatus isi
  6. lebih khusus lagi, pantun berkait ada juga yang semua barisnya berstatus isi, tidak ada yang berstatus sampiran.

Zaidan dkk (1994:143)mendefinisikan pantun sebagai jenis puisi lama yang terdiri atas 4 larik dengan rima akhir a/b/a/b. Setiap larik biasanya terdiri atas 4 kata, larik 1-2 merupakan sampiran, larik 3-4 merupakan isi. Berdasarkan ada tidaknya hubungan antara sampiran dan isi ini, pantun dapat dipilah-pilah menjadi 2 genre/jenis, yakni pantun mulia dan pantun tak mulia.

Disebut pantun mulia jika sampiran pada larik 1-2 berfungsi sebagai persiapan isi secara fonetis dan sekaligus juga berfungsi sebagai isyarat isi. Sementara, pantun tak mulia adalah pantun yang sampirannya (larik 1-2) berfungsi sebagai persiapan isi secara fonetis saja, tidak ada hubungan semantik apa-apa dengan isi pantun di larik 3-4.

Sementara Rani (1996:58) mendefinsikan pantun sebagai jenis puisi lama yang terdiri atas 4 baris dalam satu baitnya. Baris 1-2 adalah sampiran, sedang baris 3-4 adalah isi. Baris 1-3 dan 2-4 saling bersajak akhir vertikal dengan pola a/b/a/b.

Hampir semua suku bangsa di tanah air kita memiliki khasanah pantunnya masing-masing. Menurut Sunarti(1994:2), orang Jawa menyebutnya parikan, orang Sunda menyebutnya sisindiran atau susualan, orang Mandailing menyebutnya ende-ende, orang Aceh menyebutnya rejong atau boligoni, sementara orang MelayuMinang, dan Banjar menyebutnya pantun. Dibandingkan dengan genre/jenis puisi rakyat lainnya, pantun merupakan puisi rakyat yang murni berasal dari kecerdasan linguistik local genius bangsa Indonesia sendiri.

Istilah pantun tidak ditemukan padanannya dalam bahasa Banjar, sehubungan dengan itu istilah ini langsung saja diadopsi untuk memberi nama fenomena yang sama yang ada dalam khasanah puisi rakyat anonim berbahasa Banjar (Folklor Banjar).


Pantun Banjar Masa Kini : Bernasib BurukSunting

Pada zaman sekarang ini, pantun, khususnya pantun Banjar, tidak lagi menjadi puisi rakyat yang fungsional di Kalsel. Sudah puluhan tahun tidak ada lagi forum Baturai Pantun yang digelar secara resmi sebagai ajang adu kreatifitas bagi para Pamantunan yang tinggal di desa-desa di seluruh daerah Kalsel.

Pantun Banjar yang masih bertahan hanya pantun adat yang dibacakan pada kesempatan meminang atau mengantar pinengset (bahasa Banjar Patalian). Selebihnya, pantun Banjar cuma diselipkan sebagai sarana retorika bernuansa humor dalam pidato-pidato resmi para pejabat atau dalam naskah-naskah tausiah para ulama.

Syukurlah, seiring dengan maraknya otonomi daerah sejak tahun 2000 yang lalu, ada juga para pihak yang mulai peduli dan berusaha untuk menghidupkan kembali Pantun Banjar sebagai sarana retorika yang fungsional (bukan sekadar tempelan). Ada yang berinisiatif menggelar pertunjukan eksibisi Pantun Banjar di berbagai kesempatan formal dan informal, memperkenalkannya melalui publikasi di berbagai koran/majalah, melalui siaran khusus yang bersifat insidental di berbagai stasiun radio milik pemerintah atau swasta, dan ada pula yang berinisiatif mememasukannya sebagai bahan pengajaran muatan lokal di sekolah-sekolah yang ada di seantero daerah Kalsel. Tulisan saya di Wikipedia ini boleh jadi termasuk salah satu usaha itu.

Sekarang ini di Kalsel sudah beberapa puluh kali digelar kegiatan lomba tulis Pantun Banjar bagi para peserta di berbagai tingkatan usia. Tidak ketinggalan Stasiun TVRI Banjamasin juga sudah membuka acara Baturai Pantun yang digelar seminggu sekali oleh Bapak H. Adjim Arijadi dengan pembawa acara Jon Tralala, Rahmi Arijadi, dan kawan-kawan

Fungsi Sosial Pantun BanjarSunting

Pada masa-masa Kerajaan Banjar masih jaya-jayanya (1526-1860), pantun tidak hanya difungsikan sebagai sarana hiburan rakyat semata, tetapi juga difungsikan sebagai sarana retorika yang sangat fungsional, sehingga para tokoh pimpinan masyarakat formal dan informal harus mempelajari dan menguasainya dengan baik, yakni piawai dalam mengolah kosa-katanya dan piawai pula dalam membacakannya.

Tidak hanya itu, di setiap desa juga harus ada orang-orang yang secara khusus menekuni karier sebagai tukang olah dan tukang baca pantun (bahasa Banjar Pamantunan). Uji publik kemampuan atas seorang Pamantunan yang handal dilakukan langsung di depan khalayak ramai dalam ajang adu pantun atau saling bertukar pantun yang dalam bahasa Banjar disebut Baturai Pantun. Para Pamantunan tidak boleh tampil sembarangan, karena yang dipertaruhkan dalam ajang Baturai Pantun ini tidak hanya kehormatan pribadinya semata, tetapi juga kehormatan warga desa yang diwakilinya.


Source : Wikipedia™

PERSAUDARAAN BANJAR DAN DAYAK


"PERSAUDARAAN BANJAR DAN DAYAK"

Siapakah Orang BANJAR ?
Maka Banjar adalah secara genetis perpaduan gen DAYAK dan MELAYU tetapi secara Budaya lebih dominan berbudayakan MELAYU.suku Banjar bukanlah suku pada awalnya, suku Banjar tercipta semenjak adanya Kesultanan Banjar, jadi suku banjar terbentuk karena sekelompok orang yg menjadi rakyat kesultanan Banjar yg berbudaya MELAYU dan beragama ISLAM yg berdiam disebuah bangsa ( Negara Banjar Raya) Maka suku ini tercipta karena adanya bangsa. Maka Banjar adalah Banjar bukan Dayak, Banjar adalah satu entitas tersendiri tetapi asal usulnya tidak dapat dilepaskan dari orang-orang Dayak. Ibarat saudara sepupuan. Maka tepatlah istilah Banjar & Dayak adalah "BADINGSANAK”. Hubungan antara suku Banjar dan kaum Dayak selalunya dalam keadaan baik. Beberapa kaum Dayak masuk Islam dan berasimilasi dengan budaya suku Banjar yg notabene berbudaya Melayu ,serta memanggil diri mereka orang Banjar. Kaum Dayak menganggap suku Banjar sebagai saudara. Ini diperkuatkan lagi dengan banyaknya perkawinan antara suku Banjar dan kaum Dayak termasuk pada peringkat raja. Contohnya, Biang Lawai, isteri kepada Raja Banjar adalah dari etnik Dayak Ngaju.
Dan banyak lagi Sultan banjar yg mengambil istri dr suku dayak.
Terlebih lagi adanya cabang Kesultanan Banjar di pemukiman dayak yaitu Kesultanan Kotawaringin (Kesultanan Kutaringin) yg diperintah oleh salah satu Pangeran Kesultanan Banjar yaitu Pangeran Anta Kasoema Dan para masyarakat dayak disana menerima kedatangan utusan kesultanan Banjar untuk mendirikan Kesultanan baru /cabang dari Kesultanan Banjar dan menyebarkan islam disana.
Hubungan ini menjadi kuat apabila mereka berhadapan dengan penjajahan. Mereka bersama-sama berperang dan beberapa pejuang yang terlibat dalam Perang Banjar adalah dari etnik Dayak. Contohnya.
Panglima Batur, dari etnik Dayak Siang Murung.
Panglima Wangkang, ayahnya Dayak Bakumpai dan ibunya Banjar.
Panglima Batu Balot (Tumenggung Marha Lahew), pahlawan wanita yang menyerang Kubu Muara Teweh pada tahun 1864-1865.
Banyak lagi pejuang banjar dan dayak berperang dan berjuang bersama.
Tidak pernah ada pergesekan antara banjar dan dayak dan keharmonisan ini akan selalu terjaga. Aamiin yaa rabbal alamiin ...

"DIMANA TANAH DI JAJAK DI SITU JUA LANGIT DI JUNJUNG "

Baginda Sultan Haji Khairul Saleh Al-Moo'tasheem Billah juga berpesan agar masyarakat Banjar di manapun berada tetap menjunjung Marwah BANJAR sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi kebersamaan dan persaudaraan.

Original Post : 

www.facebook.com/aziez.mirza



DATUK TUAN HAJI NASSIR (DATU KAYA) SANG PENDIRI MASJID AGUNG AL-KAROMAH MARTAPURA

Makam Datuk Tuan Haji Nassir di Desa Melayu terlihat diselubungi kain kuning.
Disbudpar Banjar hari ini meninjau makam Datu Tuan Haji Nassir salah satu pendiri Masjid Agung Alkaromah di Desa Melayu, Kecamatan Martapura Timur.

Allahyarham Datu Tuan Haji Nassir yang berjasa dalam proses pembangunan Masjid Al Karomah Martapura tentu saja sangat patut mendapatkan perhatian.
Saat ini, Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kebupatian Banjar telah meninjau dan akan memverifikasi sejarah Allahyarham dimasa hidupnya. Langkah ini, sebagai tahap awal untuk mengusulkan makam Allahyarham Datu Tuan Haji Nassir di Desa Melayu sebagai sebuah situs sejarah dan budaya.
Kabid Kebudayaan Banjar, Yuana Karta Abidin menjelaskan, Dia sudah menurunkan stafnya untuk meninjau makam Datu Nassir di Pekauman .
Langkah selanjutnya, pihaknya akan menggali sejarah Allahyarham ke
Masjid Agung Al Karomah Martapura
"Kita sudah tinjau dan coba mengumpulkan informasi dari perpustakaan di Masjid Al Karomah ," katanya.
Dari sejarah yang ada, almarhum memang pemrakasa pembangunan Masjid Agung Al Karomah bersama KH Afif atau yang dikenal Datu Landak.
Melihat sejarah dan usia makam beliau, memang layak makam beliau untuk diusulkan sebagai salah satu situs budaya.
Dengan begitu, makam almarhum bisa lebih terawat. Cuma untuk proses pengusulan ini perlu waktu ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan.
"Kita akan verifikasi keberadaan makam dan sejarahnya. Setelah itu, baru kita bisa usulkan. Kalau melihat usia dan peranan beliau membangun
Masjid Al Karomah memang patut untuk kita usulkan," 

Kubah sederhana dengan dinding kayu serta teralis kawat berdiri di ujung Gang masuk ke Kantor Desa Melayu.
Di dalam kubah itu, terlihat sebuah makam yang terbilang istimewa. Nisan makam itu, terbuat dari bahan kayu ulin berukir bunga yang berukuran besar sebesar berdiameter 16 inch
Makam itu oleh warga disebut makam Tuan Haji Datu Nassir. Allahyarham yang juga dikenal dengan Datu Kaya adalah sosok yang berjasa memprakasai pembangunan Masjid Agung Al Karomah bersama Datu Sheikh Muhammad Afif atau yang dikenal dengan Datu Landak ( Ayahanda Kepada Mufti Kerajaan Inderagiri ,Riau   Sheikh Abdurrahman Shiddiq Al-Banjary )
Allahyarham yang dikenal seorang saudagar turut mendanai pembangunan Masjid Agung Alkaromah yang dimulai dibangun 10 Rajab 1315 H (5 Desember 1897M). Kepala Desa Melayu, Asnan membenarkan makam tersebut adalah makam Tetuha Kampung Melayu yakni Datu Nassir.

Beliau adalah salah satu pendiri Masjid Agung Al Karomah. Sejarahnya, beliau merupakan bendahara sekaligus penyandang dana pembanguban Masjid Al Karomah. Menariknya, makam beliau ini adalah pada nisannya. Nissannya ini sangat besar seukuran galon air.
"Terbuat dari bahan ulin yang diukir. Ukirannya ini, sama dengan ukiran yang ada ditiang Masjid Alkaromah . Ini menandakan orang yang mengukir batu nisan ini sama dengan pengukir di tiang Masjid Agung Al Karomah," ungkapnya, Senin(11/12/2017).


Source : TribunNews.Com